kamar terbaik

Standard

Hari Minggu yang lalu, Nala (teman kost) pindah ke tempat yang baru. Bersama dengan adiknya, dia menyewa rumah petak. Biaya kontrak rumah lebih murah dibanding gabungan uang kost mereka, walau ini menyebabkan dia menempuh jarak dan waktu yang lebih lama ke kantornya.

Saat Nala beres-beres kamar, aku melihat-lihat kamarnya, yang letaknya persis di sebelah kamar mandi, dan dekat dengan dapur kecil kami. ‘Kali aja ntar temanku ada yang lagi cari kost, dan kamar ini bisa jadi pilihan’. Nala bilang kalo malam tidak terasa panas di dalam kamarnya itu. Aku melihat ada meja belajar yang lumayan besar. Meja belajar itu punya Ibu kost. Dalam pikiranku ‘boleh juga nih pake meja ini kalau mau menggunakan laptop, tidak buat punggung sakit’.

Menyadari bahwa kamarku sudah tidak mungkin dimasuki furniture apapun itu bentuknya, karena space yang sangat terbatas, maka aku berniat untuk meminjam kamar itu beberapa jam di malam hari atau selama weekend, selama kamar itu belum ada yang menempati.

Selasa malam, sepulang dari kantor, seperti  biasa aku datang ke ruang makan Ibu *kebiasaan yang seharusnya dihindari kalo mau sukses diet* dan menyampaikan maksud hati meminjam kamar yang sudah kosong itu, beserta alasan yang sebenar-benarnya ada di balik permintaan itu. Dan (tentu saja) Ibu mengijinkan. Bahkan Ibu menyarankan agar aku menduplikat kunci itu, agar tidak harus bolak balik meminta kunci kalo ingin menggunakan kabar tersebut.

Malam itu juga aku langsung mencoba kamar tersebut😀

Laptop, sambungan colokan listrik, adaptor, charger HP semua dibawa. Sekarang aku siap beraksi di depan laptop.

Tak perlu waktu lama untuk menyadari dan akhirnya memutuskan bahwa cukup malam ini saja aku menggunakan kamar ini. Ruangan terasa gerah, meski satu dari dua jendela sudah dibuka. Dan alasan utama karena ruangan ini dipenuhi oleh suara-suara yang datang dari luar kamar tersebut. Yup, suara aktivitas dari kamar mandi sebelah dan dari dapur. Suara keran yang mengeluarkan air, suara shower, pintu kamar mandi yang dibuka dan ditutup, suara orang-orang yang berbincang dan bercanda di ruang dapur, suara air dari dispenser, dan lainnya. Semuanya terdengar sangat jelas. Bagaimana Nala bisa bertahan di tempat ini selama ini?😦

Tiba-tiba aku jadi merasa sangat bersalah, karena (rasanya) aku yang paling sering menggunakan kamar mandi di atas jam 11 malam, apakah itu untuk sikat gigi, mandi, bahkan nyuci. Tak sekalipun aku pernah menyangka kalo hal ini mengganggu orang lain, meskipun Nala tidak pernah kudengar berkeluh kesah tentang ini.

stop complainAku harus mengakui kamarku sekarang adalah yang terbaik untukku *jangan lagi mengeluh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s