Magabut*

Standard

Berawal dari status teman (si C) di fesbuk yang bilang kalo cuti melahirkannya segera abis dan dia males banget karena harus masuk kantor lagi. Temanku yang laen (si G) bereaksi dengan pendapat ‘sinting kali tuh orang ya, mau dapat gaji tapi ga mau kerja’.

Sempat kaget juga dengar pendapat si G, karena saat baca status si C aku anggap itu hanya curhatan seorang Ibu muda yang lagi senang-senangnya baru punya bayi, jadi sedih karena nanti tidak bisa melihat bayinya setiap saat.

Tapii…. aku jadi kepikiran terus nih dengan pendapat temanku itu. Secara aku bercita-cita punya usaha sendiri, kira-kira aku merasa rugi ga ya kalo nanti harus bayar penuh gaji 3 bulan pegawai wanita yang lagi cuti melahirkan? Aku coba googling alasan mengapa perusahaan harus membayar gaji penuh karyawannya yang cuti melahirkan, malah nemu ‘hak’ pegawai wanita yang cuti melahirkan di negara-negara lain, yang ternyata jauh lebih menyenangkan dibanding Indonesia. Contohnya nih:

Norwegia   :   Semua wanita hamil yang bekerja di negara ini mendapat hak cuti untuk pemeriksaan pranatal rutin ke dokter kandungan setiap bulannya selama masa kehamilannya. Sedangkan cuti melahirkan yang diberikan oleh perusahaannya selama 6 bulan dan tunjangan persalinan yang diperoleh sebesar 21.500 US dollar

Inggris  :  hak cuti melahirkan yang diberikan negara ini bagi wanita hamil yang bekerja adalah selama 26 minggu dengan tetap memperoleh gaji penuh, yang 90% berasal dari subsidi pemerintah dan 10% sisanya dari perusahaan tempatnya bekerja. Begitu juga dengan suami, berhak cuti mendampingi istrinya yang melahirkan selama 2 minggu dengan tetap memperoleh gaji penuh.

Lengkapnya baca di sini.

kucing hamil :)Mungkin ga bisa ya membandingkan negara-negara maju tersebut dengan Indonesia, mengingat kompleksnya persoalan kebijakan publik yang terjadi di Indonesia. Rendahnya atensi warga membayar pajak, banyaknya pengangguran, besarnya jumlah penduduk, tingkat korupsi yang gila-gilaan di berbagai lini, dan hal-hal lainnya yang menghalangi pegawai hamil di Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama seperti di negara-negara maju lainnya.

Balik kepada kenyataan di Indonesia, mungkin ini sebabnya kalau lihat lowongan kerja di koran, biasanya kriteria pegawai wanita yang dicari adalah yang berusia di bawah 25 tahun dan belum menikah. Dengan kriteria ini perusahaan berharap tidak harus membayar cuma-cuma gaji kepada karyawannya.

Kira-kira peraturan perusahaan milikku ntar gimana ya?? *hitunghitung*

*Magabut: Makan Gaji Buta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s