Ketika Bertemu (resep Dorcin)

Standard

dokter cintaMinggu lalu aku dikunjungi dokter cinta (Dorcin)🙂

Biasanya aku berkonsultasi melalui YM atau SMS. Meskipun tidak bersertifikat, tapi gelar Dorcin layak disandang temanku ini mempertimbangkan pengalamannya dalam dunia percintaan ini. Kok belum merit juga sih, Dok?  *ditimpuk donat*

Sebagai salah satu pasien kesayangan *klaim sepihak*, ternyata maksud kunjungan Dorcin kali itu adalah untuk melakukan diagnosa atas postingan-ku di sini. Dorcin ternyata membaca blog pasiennya untuk memonitor perkembangan sejarah percintaan hidup pasiennya🙂

Nah, aku mau membagikan resep dari Dorcin atas diagnosa yang dilakukan kemaren itu.

Jadi, menurut Dorcin, sebelum wanita bertemu dengan pria yang mau dikenalkan, sebaiknya wanita tersebut mencoba membangun pikiran positif tentang pria yang akan ditemui ini. Cobalah membayangkan seorang pria yang menarik sesuai dengan kriteria yang wanita itu idamkan. *semakin dewasa, seharusnya kriteria fisik sudah keluar dari prioritas utama ya..*

Diagnosa Dorcin, saat pertemuan kemaren itu, (mungkin) tanpa aku sadari aku mengeluarkan aura penolakan. Ternyata untuk urusan yang kek gini2, banyak pria yang hatinya berubah jadi selembut sutra (sensitif). Mereka bisa ‘membaca’ apakah wanita itu menolak atau menerima dirinya (hanya) melalui tatapan mata, senyuman, duduk yang menjauh dan berbagai bahasa tubuh yang lainnya.

Aku coba pikir-pikir dan ingat-ingat lagi, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Dorcin. Aku sih sudah mencoba membayangkan kira-kira seperti apa pria yang akan aku temui berdasar informasi yang diberi temanku. And yes, aku tidak membangun hal-hal menarik tentang dirinya di pikiranku. Sehingga ketika bertemu, yang langsung terlihat di mataku adalah kekurangan-kekurangannya. Meskipun aku merasa cukup terbuka dan bersikap wajar saat bertemu, namun yang dilihat pria itu adalah aura negatifku.. *hikss..*

Membangun pikiran positif ini mungkin tidak bisa dibangun dalam sehari karena dibutuhkan tekad kuat. Semakin lama semakin baik karena pembentukan pikiran positifnya semakin kuat dan sempurna. Dan ketika hari pertemuan tiba, maka yang dilihat pertama kali dari pria tersebut adalah hal-hal positif yang sudah dibangun selama ini.

Menilik aku yang tak berpengalaman dalam perkenalan ini, Dorcin menyarankan aku mencoba ‘test’ kecil  dulu, yaitu dengan mengamati pria-pria yang aku temui. Misal, kalo lagi nongkrong di DD, coba amati satu pria. Hmm.. kalo dilihat dari bajunya, sepertinya tuh cowok suka kerapihan deh, kalo dilihat dari cara minum kopinya sepertinya dia orang yang penuh ketenangan, kalo dilihat dari rambutnya sepertinya dia cowok yang memperhatikan kebersihan, kalo dilihat dari cara bicaranya sepertinya dia cowok yang ramah. Kalo dilihat dari ……. sepertinya dia …..……..

Sampai saat aku menuliskan postingan ini, test kecil itu belum juga aku lakukan. But I will. Nanti diceritakan lagi deh hasil pengamatannya.

Dorcin, makasih ya untuk diagnosa dan resepnya, juga untuk secangkir ice chocolate plus donatnya *nunggu undangan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s