Tiga Hal Selama di Belitung

Standard

tanjung tinggi

Dari perjalanan ke Belitung minggu lalu, banyak hal menarik yang aku dapatkan. Tiga hal terbaik adalah yang berikut ini, versi detail perjalanan selama 3H2M akan disampaikan ditulisan berikutnya (kalo masih ingat, hehheeh..):

  1. Pertanyaan yang menggelayut di kepala saat melihat pantai di tanjung tinggi dan pulau-pulau kecil sekitarnya adalah ‘apa ya yang dipikirkan Tuhan saat menciptakan pantai-pantai di Belitung dan menyusun bebatuan raksasa di atasnya?’. Pantai-pantai di Pulau Belitung luar biasa indahnya. Pokoknya harus melihat sendiri dan engkau pasti akan memuji Allah Pencipta.
  2. Saat makan mie belitung di warung Mie ‘A Tep’, kami berkesempatan ngobrol dengan Ibu Pemilik *lupa nanya namanya*. Ternyata Ibu ini sudah berjualan mie sejak 38 tahun yang lalu. Dia tidak memproduksi sendiri mie-nya, tapi beli dari pabrik mie dan tidak pernah pindah pabrik sama sekali hingga hari ini. Belitung bukanlah pulau yang besar, saat ini saja air untuk kebutuhan sehari-hari lagi sangat sulit didapat karena kemarau yang berkepanjangan, pun juga masih belum tersedia prasarana umum yang sangat memadai. Bisa bayangkan bagaimana keadaan daerah ini 10-15 tahun yang lalu? Dalam lingkungan yang sulit, Ibu ini tetap tekun, konsisten, bertahan dan berhasil. Kesulitan menempa diri menjadi pribadi yang tegar, asal kita tahu dan yakin bahwa persoalan itu tidak akan pernah melebihi kekuatan kita. Dan satu lagi membuat wajah kita awet muda :) Hal ini nyata di penampilan Ibu ini yang sudah berusia 64 tahun, namun terlihat  seperti masih berusia 50 tahun.
  3. Di tengah perjalanan ke pulau berikutnya selepas dari pulau Lengkuas, hujan turun cukup deras, dan bagi kami itu berarti suangaattt deras. Kapal yang kami naiki adalah traditional boat yang biasa dipakai nelayan untuk melaut pada malam hari, jadi bukanlah kapal yang besar. Kami yang duduk di bagian depan kapal sangat merasakan goncangan. Aku masih bisa tersenyum bahkan kadang tertawa kecil ketika merasakan goyangan kapal di tengah ombak yang membesar. Dalam hati sedikit gundah karena aku baru bisa berenang tapi belum pernah berhasil mengapung di kedalaman lebih dari 1,6 meter :D Seorang teman yang sangat pintar berenang pun terlihat sangat ketakutan dan minta kembali ke Pulau Lengkuas. Hujan disertai angin membuat badan menerima rasa dingin yang sangat. Akhirnya masuk ke kabin kapal atas permintaan awak kapal. Dan heiii… di bawah itu goncangan sama sekali tidak terasa. Aku langsung teringat peristiwa Tuhan Yesus yang menghardik angin ribut. Yesus ditemukan lagi tidur saat badai datang dan semua orang di kapal itu panik. Bila di kabin kapal keadaannya berbeda 180 derajat dengan di atas geladak, tentu saja goyangan kecil kapal justru lebih melenakan. Saat aku membagikan hal ini kepada 2 temanku yang lain, mereka langsung protes, karena ‘badai’ yang kami alami tadi tidak ada seperseribu-nya badai yang diceritakan dalam Alkitab itu, hehehhe..

Begitulah perjalanan perdanaku ke Belitung. Dalam setiap hal yang aku lihat, rasakan, dan hadapi selalu ada berkat rohani di dalamnya. Menyegarkan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s