Kursi Kosong

Standard

Rasa lelah menghantam setiba di kost setelah berenang 2 jam di Kemang. Rencana untuk ibadah Minggu di jam 11 terpaksa diubah menjadi jam 4 sore, itu pun setelah 3 jam berada di kantor untuk memfinalkan perhitungan deferred tax semester pertama tahun ini.

Di gereja, aku duduk di sayap kanan, tidak terlalu jauh dari mimbar. Jumlah jemaat yang hadir saat itu tidak terlalu membuat penuh ruangan. Kursi di kiri dan kananku kosong. Aku memang sengaja memilih tempat duduk nomor dua dari pinggir.

kursiSaat bernyanyi dengan (sok) khidmat di sesi awal ibadah, tiba-tiba terdengar suara seorang pria menanyakan status kursi di sebelah kiriku ‘kosong kan Mbak?’. Aku tersenyum dan mengangguk.

Pria ini, aku tidak sempat mengamati banyak wajahnya kelakuannya. Sempat terlirik beberapa kali dia membuka HP-nya, doing something there, dan menutup kembali HP tersebut. Saat sesi FT, ternyata kami sama-sama membaca ayat-ayat referensi Alkitab dari HP kami. Dia bernyanyi mengeluarkan suara saat mengumandangkan lagu-lagu pujian, mengucapkan ‘Amin’ saat pendeta bertanya ‘Amin, saudara-saudara?’ 😀

Ibadah hampir selesai. Saat warta jemaat dibacakan, pria ini mengajak ngobrol. Dia bertanya apakah aku baru pulang kerja, merujuk pada tas ransel yang aku letakkan di bawah kursi di depanku. Pertanyaan berlanjut, aku kerja di mana, kenapa hari Minggu ngantor, biasanya ikut ibadah yang jam berapa dan ‘Mbak orang Batak ya?’. Saat aku mengiyakan, lanjut lagi dengan pertanyaan wajib aku bermarga apa. Dia mengulurkan tangan untuk berkenalan, menyebutkan marganya bukan namanya (yang aku lupa Manurung atau Marpaung, hehehe), dan saat itu langsung memanggilku Ito.

Sesi tanya jawab itu untuk sesaat berakhir, seiring warta jemaat yang selesai dibacakan. Doa berkat telah diucapkan, kami pun mulai berjalan pelan untuk keluar dari gereja. Dia masih (lagi) lanjut bertanya hal ini itu, dan ketika tiba di lantai di mana foodcourt berada, dia menawarkan ‘snack dulu yuk..’.

Aku tersenyum dan menjawab ‘maaf, saya mau ke carrefour’. Kami pun berpisah.

Ini adalah pengalaman pertamaku berkenalan dengan seorang pria yang penuh dengan pertanyaan di dalam gereja yang jemaatnya (mungkin) kebanyakan jemaat tamu. Sedikit terasa tak biasa bagiku.

Tapi Ito, kalo memang masih mau bertemu lagi dengan aku, Ito sudah tau aku biasanya hadir di ibadah jam berapa. So, good luck 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s