Rekayasa

Standard

integrityDari salah satu milis yang aku ikuti, ada satu pembahasan mengenai email untuk anak-anak. Awalnya adalah keinginan para orangtua dalam milis tersebut agar anak-anak mereka juga dapat saling kontak dengan anak-anak para teman orangtua-nya. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, maka anak-anak tersebut harus memiliki email account sendiri.

Masalah mulai muncul karena ternyata ada beberapa email provider yang mensyaratkan bahwa untuk dapat memiliki email account harus berumur minimal 18 tahun, sedangkan para anak yang ingin saling berkorespodensi rata-rata berusia di bawah 15 tahun. Para orangtua mulai berdiskusi, beberapa mengusulkan (dan sudah melakukan) agar tahun kelahiran sang anak di-rekayasa. Jadi tanggal dan bulan lahirnya diisi sesuai kenyataan, namun tahun lahirnya disamakan dengan tahun lahir papa/mama-nya, atau dimajukan sehingga umur sang anak minimal 18 tahun.

Rekayasa untuk hal di atas tampaknya simple & acceptable, toh para orangtua yang melakukan itu berkomitmen untuk  memonitor isi email-email yang akan diterima dan dikirim oleh para anak mereka. Tapi, apakah benar sesederhana itu?

Dari hal yang kecil, muncul hal yang besar.

Jadi teringat suatu peristiwa, di mana dalam salah satu perjalanan dinas, aku menghilangkan tanpa sengaja satu bukti airport tax, padahal tanpa itu aku tidak bisa me-reimburse ke kantor uang airport tax tersebut meskipun tiket pesawat jelas-jelas ada. Ada jalan keluar, aku bisa membuat berita acara kehilangan bukti airport tax dan atasanku (plus big boss) harus menandatangani berita acara tersebut, sehingga aku tetap berhak meng-claim airport tax yang bukti bayarnya hilang itu. Proses merepotkan untuk uang senilai kurang dari 40 ribu rupiah.

Seorang teman yang mengetahui keadaan ini dan dari pengalamannya mengurusi perjalanan dinas mengusulkan agar aku memasukkan biaya airport tax yang hilang itu ke biaya taksi yang memang tidak memerlukan bukti pembayaran. Selama uang taksi yang di-claim masih masuk akal, pasti bisa di-reimburse.

Lebih sederhana, tidak ada pihak yang direpotkan ataupun dirugikan, semuanya senang. Tapi, benarkah seperti itu?

Aku pikir aku sudah mengambil keputusan yang benar di peristiwa itu.

Gambar diunduh dari: http://davidcoethica.files.wordpress.com/2009/03/integrity.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s