My Room

Standard

Ketika bangun (sangat telat) tadi pagi, aku memandang sekeliling kamarku yang berantakan. Ada barang di mana-mana. Tampak di atas lemari buku-buku yang berserakan, bercampur text book dengan novel-novel baik sudah selesai dibaca maupun belum selesai dibaca. Sedang di atas lemari yang laen pernak pernik kosmetik bercampur dengan foto-foto, ada juga gelas dan buku-buku. Terasa ruangan sangat sempit. Tiba-tiba teringat komentar kakak-ku yang berkunjung Februari lalu ‘Kenapa sih lemari ini ga diletakkan di atas lemari itu? Biar lebih lapang kamar mu ini’. Akhirnya aku memutuskan to make over my room. Paling lama 4 jam, batinku.

Ada dua lemari di kamarku, satu aku pake untuk menyimpan pakaian, satu lagi untuk menyimpan hal lain selain pakaian. Selain lemari, ada 1 container isi 4 rak, dan 4 buah single container yang sengaja dibeli dulu untuk menyimpan buku.
Semua barang yang ada di atas lemari ditaruh dalam kotak besar, lalu isi lemari pakaian dikeluarkan supaya lemari itu tidak terlalu berat ketika diangkat untuk diletakkan di atas lemari yang satu lagi. Setelah lemari pakaian kosong, aku baru menyadari bahwa aku takkan pernah sanggup untuk meletakkan lemari ke atas lemari lain. Bahkan kalo aku minta teman kost untuk membantu. Lemari itu ternyata berat banget.
Perjuangan di mulai, ditemani Britney Spears, Rihanna dan Beyonce, dengan semangat 45 aku mulai geser sana geser sini. Lengan rasanya dah kekar banget nih angkat-angkat TV, kotak-kotak, container. Perabotan yang tidak bisa di dorong oleh tangan, maka kaki dan punggung pun yang dipake untuk mendorong.
Ternyata di bawah lemari banyak debu, juga di bawah tempat tidur. Sapu lantai yang kotor, pel, baru perabotan digeser ke tempat yang diinginkan. Ada 3x mengubah letak yang berakibat perabotan yang sangat berat itu bolak balik digeser. Lelah sekali.
Rasa lelah yang mendera selama aktivitas geser menggeser dan dorong mendorong selama lebih 4 jam membuat aku tersadar sesuatu. Staminaku sudah tidak seperti 5 tahun yang lalu. Acara make over kek gini paling cepat dilakukan 1x setahun dan rasanya capek banget. Bagaimana ya dengan ibu-ibu muda yang merawat sendiri anak-anak mereka yang masih kecil? Harus menemani mereka main setiap hari yang mana anak2 tersebut memiliki kekuatan yang seakan tidak pernah ada habisnya. Bila kelak anakku sudah bisa berlari dan bermain, umurku mungkin sudah lebih 35 tahun, masih sanggup kah aku bermain2 dengan mereka, setiap hari? Jadi, kalo dari sekarang aku tidak menjaga asupan yang masuk ke dalam tubuhku, bukankah aku sedang menabur angin dan kelak menuai badai? *ihhh.. serem membayangkannya*
Selama melakukan make over kamar ini aku seperti melihat persamaan dengan Dia yang sedang melakukan make over atas diriku. Aku tadi geser perabotan sana sini supaya letak perabotan terlihat pas satu dengan yang lain pun dengan luas kamar. Bukankah Dia juga sedang membentuk aku untuk menghasilkan karakter yang Dia tetapkan? Kadang (sering bahkan) proses pembentukan itu terasa sangat sakit, dan tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Mungkin Dia juga sudah bosan setiap saat menemukan aku dengan debu dosa yang semakin hari semakin tebal karena aku yang bebal, tapi Dia tak pernah hilang sabar untuk menawarkan pengampunanNya dan tentu kasih sayangNya.
make-over-my-room1Butuh waktu 6 jam bagiku mengotak-atik kamar seluas 12m2 hingga akhirnya kamarku jadi terasa sangat lapang, lantai bersih, udara terasa segar. Namun, membutuhkan waktu seumur hidupku bagi Dia untuk membentuk aku sesuai dengan gambaranNya yang sempurna.
Terima kasih Tuhan untuk keselamatan yang Kau beri.
Happy Easter!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s