the first time

Standard

Pagi kemaren aku telat bangun. Sebenarnya ga telat, hanya saja aku merebahkan kembali badanku setelah mematikan alarm hape yang berbunyi. Ketiduran dehh..🙂 Terbangun ketika ada telpon dari teman yang tak sempat diangkat karena sudah kaget melihat jarum panjang jam menunjuk angka 9 dan jarum pendeknya sudah mendekati angka 8. Akhirnya mandi-pakaian-dandan ala kadarnya dalam waktu 45 menit. Keluar dari kost, dan seperti biasa menggunakan jasa ojek yang mangkal di depan kost.

Semuanya berjalan seperti biasa, seperti jalanan yang macet di pagi itu. Pun begitu, aku bersemangat menjalani hari ini, pikirku . Ditemani panasnya pagi dan macetnya jalan, pikiranku merancangkan akan ke Harmoni pas jam istrahat siang nanti untuk ambil proposal thesis yang sudah direview Mr. G.  Aku duduk dengan tenang di atas motor yang lagi berhenti di simpang kuningan karena nyala lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Aku melihat ke arah penunjuk waktu yang berada di dekat lampu lalu lintas itu, ahh.. 10 detik lagi giliran kami akan mendapatkan lampu hijau.

Terdengar suara klakson dari belakang, oh sudah lampu hijau ternyata. Kendaraan berebut jalanan, melaju cepat-cepat agar jangan terhadang lampu merah lagi. Tiba-tiba.. brakkkk… jantungku serasa melompat, mulutku berteriak kaget. Ouchh… motor di depan kami nge-rem tiba-tiba, memaksa pak ojek juga ngerem mendadak, yang mengakibatkan motor-nya juga ditabrak dari belakang, dan akhirnya agak miring ke kiri menyenggol motor lain yang kebetulan lewat di sisi kiri kami. Tak ada motor yang tejatuh. Helm yang aku pakai terlempar ke sebelah kanan motor. Aku yang masih agak shock turun dari motor, mengambil helm dan menyeberang ke bawah jembatan. Di antara bisingnya klakson pengemudi di belakang kami, masih kudengar suara pak ojek yang memberi alasan kalo motor di depannya rem mendadak berbaur dengan suara pengendara lainnya yang menyarankan untuk membereskan masalah di depan.

Pak ojek mengarahkan motornya ke bawah jembatan tempat aku berdiri, menanyakan apakah aku baik-baik saja, dan aku hanya bilang masih agak sedikit shock. Aku naik lagi ke atas motor, dan pak ojek menjalankan motornya kembali ke rute biasa menuju kantor. Dua ratus meter  kemudian, aku lalu mencoba memperbaiki letak duduk, dan saat itu lah aku melihat robekan panjang di sisi kiri celana panjangku, dari saku ke pangkalan paha bawah. Waakkkss.. Kalo begitu dari tadi… argghhhh…

Aku segera minta pak ojek untuk balik lagi ke kost, dan beliau pun harus rela melepaskan jaketnya untuk menutupi celanaku yang robek itu. Aku bisa melihat pertanyaan di mata para ojek lain ketika melihat kami kembali, aku yang tergesa-gesa masuk kost dan akhirnya keluar kost lagi dengan pakaian kerja yang baru, termasuk mengganti kemeja yang sudah basah karena keringat.

Ini kali pertamaku mengalami ‘kecelakaan’ saat naik ojek, semoga menjadi yang terakhir. Namun, tetap aku akan pake jasa ojek, satu-satunya cara cerdas tiba dengan cepat di suatu tempat dalam situasi macet🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s