Cirebon hari itu

Standard

-mengunjungi teman dan mendapat teman-

Cirebon. Kota yang panas, kota yang dari Jakarta dapat dicapai dalam waktu 3 jam dengan kereta api. Ke kota inilah sabtu lalu aku pergi, untuk kali ketiga. Kali terakhir ke kota ini sekitar 10 bulan yang lalu, saat menghadiri pernikahan salah satu anggota Modor.

Jam 5.30 pagi aku sudah berada di stasiun Gambir. Secangkir kopi dan satu buah donat yang aku beli dari satu gerai di stasiun menjadi bekal perjalanan 3 jam-ku. Tak lupa pula kubawa buku ‘My Name is Red’ untuk menghabiskan waktu selama di kereta. Ternyata, ¾ waktu perjalanan aku isi dengan tidur-bangun-tidur, apalagi AC di kelas executive ini bekerja dengan sangat baik, membuat aku sedikit kedinginan dan terkantuk2🙂

Jam 9 lewat dikit aku tiba di stasiun Cirebon. Sms dari seorang teman mengingatkan aku untuk naik becak saja menuju penginapan yang sudah disediakan tuan rumah a.k.a Handi yang akan menerima berkat pernikahannya siang nanti. Ya, inilah tujuanku datang ke Cirebon kali ini, menjadi saksi janji kudus pernikahan seorang teman kuliah dulu dengan pujaan hati-nya.

Setelah menyegarkan diri sejenak, jam 11 kurang aku (lagi-lagi) naek becak menuju GKI Pangampon. Acara pemberkatan dimulai telat 15 menit. Saat berjalan di altar, kedua mempelai terlihat sangat bahagia, senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Very happy for you, prends!
Acara pemberkatan berjalan lancar. Dasar khotbah diambil dari Yohanes 2:1-12, tentang pernikahan di Kana. Kedua mempelai diingatkan: 1. untuk saling peduli dengan kebutuhan pasangan, 2. taat kepada perintahNya (dengar2an dengan Tuhan), 3. bahwa ketaatan membuat kekurangan menjadi kelebihan, rasa malu berubah menjadi bangga.
IIn & Handi - 3 Jan 09

IIn & Handi - 3 Jan 09

 

Ada moment di mana wajah mempelai pria agak memerah. Mungkin saking bahagia atau gugup atau campuran keduanya, ada bagian kalimat yang menurut pak pendeta lupa diucapkan mempelai pria saat menyematkan cincin ke jari pasangannya.. Jadi, pak pendeta nyuruh teman saya ini untuk mengulangi lagi ucapannya, tapi kali ini dipandu oleh Pak Pendeta, hihihhi..

Tapi, jujur ya, kayaknya aku tidak mendengar ada yang kelewatan tuh (aku membandingkan saat mempelai wanita mengucapkan kalimat yang sama saat menyematkan cincin).

Di hari itu, aku berkenalan dengan Vina dan Indri, salah dua teman baik Iin, sang mempelai wanita. Vina menjadi roommate-ku di penginapan, sedang Indri berada di kamar yang lain dengan suami dan anaknya. Aku dan Vina langsung klop, secara kami seumuran, single dan batak. Dasar wanita ya, sebelum tidur pun kami masih sempat curhat tentang PH, bahkan Vina mengajak aku untuk menghadiri acara Natal yang diadakan oleh milis rumpun marganya🙂 Vina meyakinkan aku kalo rumpun marga-nya bisa menikah dengan marga apa aja dari suku batak karo, hihiihii…

Esoknya, hari Minggu jam 10 pagi, ditemani dengan secangkir es coklat dan satu buah donat aku meninggalkan Cirebon. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, kembali aku terkantuk2, namun kali ini sedikit menderita karena disertai dengan AC alami yang membawa hawa panas. Aku lupa, kereta Cirex kelas bisnis itu jendela-nya terbuka dan di langit2 hanya ada kipas angin yang bergerak monoton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s