Hidup yang bersyukur

Standard

Terkait dengan postingan sebelumnya, aku tiba pada sebuah kesimpulan bahwa tidak pernah puas dengan kesenangan itu artinya tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimiliki.

Saat jalan diberbagai mall, aku melihat begitu banyak hal yang ditawarkan oleh dunia, dan betapa sebagai manusia aku menginginkan hal-hal tersebut. Pengen punya perhiasan/aksesoris cantik yang terpajang di toko. Pengen beli pakaian lagi padahal lemari di rumah dah penuh sesak, pengen hang out di cafe biar kelihatan modern (bisa pingsan ibu-ku kalo tau segelas cappucino mencapai 30rb, padahal di rumah bisa menikmati cappuccino dengan modal 2rb perak doank, hehehe..). Melihat wanita2 dengan pakaian yang menunjukkan kemolekan tubuh mereka, dengan pakaian minimalis, dengan dandanan yang membuat pria berpaling, dengan fokus sekitar pusar, paha dan dada, yang membuat aku bertanya apakah aku ada keberanian utk melakukan hal yang sama seperti mereka?😀 Dan pertanyaan mendasar, mengapa semua ini dilakukan oleh mereka?

Setiap orang memiliki nilai dan prinsip hidup, yang mana nilai dan prinsip hidup ini dipengaruhi oleh keluarga, dan lingkungan tempat mereka tinggal dan bergaul, dan juga pendidikan. Kenyataannya, semakin maju sebuah kota, maka semakin terbukalah semuanya, termasuk hal berpakaian🙂

Dan aku mulai menanyakan kembali nilai dan prinsip hidup yang kupegang selama ini, yang sebenarnya tidak sempurna aku jalankan, karena yang ditawarkan oleh dunia ini begitu hebatnya.

Hidup penuh dengan pilihan. Dalam pikiranku banyak hal yang ingin kuraih, tidak ada yang salah dengan keinginan-keinginan tersebut. Pengen punya penghasilan yang lebih besar, sehingga aku bisa membeli berbagai barang yang ingin kumiliki, meski aku tau bahwa daftar itu tidak akan pernah menjadi pendek walopun ada beberapa barang yang telah menjadi kenyataan. Siapa yang tidak mengingini mobil ketika sudah memiliki rumah (eh, kebalik ya….)? Siapa yang tidak ingin berpenghasilan 10 juta setelah berpenghasilan 5 juta?

Hidup adalah pilihan, sebenarnya dengan apa yang kumiliki saat ini aku bisa dengan bijak menikmati hidup. Memiliki pacar bahkan bisa menjadi hal yang buruk dibanding dengan mereka yang tidak terikat dengan ikatan cinta apapun. Ketiadaan bisa membuat kita lebih baik daripada mereka yang berkelebihan, kesederhanaan penampilan kita bisa membuat lebih aman daripada mereka yang tampil wah.

Dimana letak logikanya? Tidak ada.

Karena ketika ketika bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang kita miliki, maka kita telah lebih baik dari orang yang tidak pernah merasa puas. Bukan berarti kita berhenti berusaha, namun kita berusaha tetapi tidak ngotot. Kita minta kepada Tuhan tetapi tidak memaksaNya.

Semoga aku selalu mengingat hal ini, bahwa Tuhan memberikan jauh lebih baik dari yang aku harapkan, bahwa Dia lebih menyediakan apa yang aku butuhkan dibanding apa yang aku inginkan, dan itu adalah yang terbaik.

2 responses »

  1. He…he….

    Aku telah tiba di blogmu. Apa yang kau tulis itu, sedang kualami….punya 1 pengen 4, bukannya 2 lagi…untungnya bukan punya 1 suami pengennya 4 suami. He…he…

    Berkunjung ke blogku ya dek…Ntar kau bisa berkunjung ke blog Ema (bagus deh kreasinya) dan ke blog abang…

  2. Sory dek…

    Yang kasih comment paling atas itu, pake nama wiki, punya abang…Lupa ganti nama tadi.

    Ini…alamat emailku dan blogku. Tinggal klik namaku aja di atas untuk berkunjung.

    Mana fotonya? Kunantikan foto-foto kita kemarin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s