Cinta itu (tidak) harus memiliki

Standard

Beberapa waktu yang lalu aku mensurvey Para Modor, setuju atau tidak setuju dengan pernyataan ini: ‘Cinta itu tidak harus memiliki’?

Hasilnya dua Modor TIDAK setuju, tiga lainnya setuju.

Gegara survey itu ada yang berpikir kalo aku sedang jatuh cinta dan ternyata bertepuk sebelah tangan (plisss dehhhh), ada yang bela2in nelpon hanya untuk ngecek apa aku baik2 saja (hahaha…), ada yang telepon hampir 30 menit untuk menjelaskan mengapa dia memilih jawaban itu, ada juga yang menjawab dengan pertanyann ‘kalau tidak bisa memiliki, mengapa harus mencintai?’.

Jadi begini ya, dasar survey itu muncul karena aku dengar lirik akhir lagu d’masiv yang berjudul ‘di antara kalian’, liriknya gini: ‘kucintaimu tak berarti bahwa kuharus memilikimu tuk selamanya’. Saat dengar lirik itu aku jadi teringat bahwa kalimat itu pernah diucapkan seseorang kepadaku lebih dari 10 tahun yang lalu.

Kemudian pemikiran ini menyeruak. Seberapa banyak perselingkuhan yang terjadi karena cinta yang tidak dapat memiliki ini? Namun, apakah ini bisa menjadi alasan perselingkuhan? Aku juga tidak tahu mengapa aku menghubungkan perselingkuhan dengan cinta yang tidak harus memiliki ini 🙂

Back to my survey, kayaknya tiga orang yang setuju dengan pernyataan ini punya pengalaman pribadi. Memilih mengakhiri hubungan bukan karena ga cinta lagi tapi karena ada sesuatu yang menghalangi yang sangat sulit untuk ditembus, mungkin keyakinan yang berbeda, suku yang berbeda, jarak yang sangat jauh, keluarga yang menentang, atau karena dia sudah ada yang memiliki duluan (cape dehhhh…, hiihihii…).

Pasti tidak gampang untuk menghilangkan rasa sayang yang pernah ada namun dipaksa buang jauh2 karena penghalang2 yang disebut di atas, apalagi kalo sudah nyambung banget komunikasinya dengan tuh orang. Daripada dibuang sayang, lebih baik sayang itu disimpan (dalam bentuk kenangan). Menurut kalian ini termasuk bentuk perselingkuhan ga?

Aku pikir kalian sudah tau aku termasuk di pendapat yang mana.

Aaaa….aaa….. *kata terakhir di lirik terakhir lagu yang menjadi dasar tulisan ini*

2 responses »

  1. hi Ima..
    pagi2 dah bkunjung nih..
    gw mau jadi respondent tak di undang ye.. kalu gue ikut aliran yang cinta itu ga harus memiliki. kenapa? karena ada banyak situasi yang mendukung/tidak mendukung proses dari mencintai ke mencintai+memiliki.
    Di beberapa situasi yang tidak mendukung, sometimes gw pikir memerlukan usaha dan pengorbanan kita, ie. gw suka sama pria A, tapi sepertinya pria A tidak menyadari hal itu. hence, gw rasa gw patut berusaha untuk menunjukkan perhatian gw ke dia (while at the same time gw sebagai priyayi jowo juga kurang setuju untuk nembak duluan).
    Tapi ada kalanya pada saat kita facing situasi yang tidak mendukung, kita harus mengalah dan menerima kenyataan. ie, gw suka sama pria B, kebetulan pria B ini sudah beristri. C’mon, kita tidak pernah merencanakan kepada siapa kita jatuh cinta. Cuma, menurut gw, kl ternyata kita jatuh cinta pada orang yang salah, it’s our call untuk memanage itu. Buat gue, cinta tidak boleh dibangun di atas penderitaan orang lain.
    nah, kl ternyata sampe kejadian cinta yang tak terdukung tadi, pilihannya ada 2:
    1. kita mundur teratur dan mencoba ‘menghilangkan’ rasa tadi
    2. ato, kita legowo menerima bahwa cinta kita hanya bisa sebatas mencintai, ga bisa sampai memiliki.
    gitchuu…
    d’ooh… pagi2 dah ngomongin cinta2an ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s