Yogya #3

Standard

Lanjut lagi ye..

Minggu pagi terbangun jam 9🙂 Kesempatan melihat pasar kaget seputar kampus sirna sudah. Akhirnya 1 jam kemudian aku sudah menanti bis di jl. kaliurang km 5. Masih rada-rada ragu mo naik jalur berapa (dah agak lupa) karena tujuan perjalanan juga masih blum pasti. Akhirnya setelah 10 menit berargumen dalam hati, aku naik bis jalur 7. Rencananya aku akan turun di Mirota Kampus.

Sepanjang perjalanan melewati daerah kampus teknik, kedokteran hatiku tak henti bersyukur karena bisa ada di Yogya lagi. Mirota Kampus akhirnya juga terlewati, aku ga jadi turun. Memasuki wilayah mesjid kampus aku liat beberapa lapak pasar kaget mule beres2. Aku juga tidak berniat untuk singgah ke kampus almamater. Akhirnya aku sudah di jalan kaliurang lagi.. Tiba2 terlintas ingin ke toko buku Toga Mas, kali aja dapat buku bagus dengan harga bagus, dan aku memutuskan tetap berada di bis. Ternyata Pak supir dan kondektur nya ganti, dan aku ditagih ongkos lagi. Pak Kondek bingung waktu aku bilang dah bayar, karena dia merasa belum. Aku bilang aja kalo td aku salah naik, tujuanku ingin ke Toga Mas tapi aku mengambil bis yang ke arah kampus. Pak Kondek senyum2 aja..

Perjalanan ke Toga Mas membawa aku melewati beberapa tempat yang dulu sering aku lewati, salah satunya RTB Kasih, ga tau apakah rumah yang aku liat itu masih untuk RTB. Pak Kondek mengingatkan aku bahwa Toga Mas dah dekat, kali aja si Bapak melihat aku yang celingak celinguk, takut kelewatan.

Buku di Toga Mas rata2 diskon 20%. Ada dua buku yang aku taksir, yaitu Teologi Seksual dan Kamar Cewek (by Ninit Yunita), heheehhe… beda banget ya topiknya, tapi masing-masing tinggal 1 edisi dan rada kotor, ga jadi beli deh. Sempat cari buku ‘Lolita’ yang kemaren aku gagal dapat dari kutu2buku, tak ada juga. Buku yang akhirnya aku beli adalah novel tipis terjemahan berjudul ‘Kappa’ ditulis oleh Ryunosuke Akutagawa.

Jam 12 siang aku kembali ke hotel, tapi sebelumnya maksi dulu di dekat hotel. Jam 1 siang cek out dari Ishiro dan menuju hotel Ibis di Malioboro. Perjalanan dengan taxi diisi dengan curhatan ku kepada pak supir ttg Yogya yang sangat berubah. Si Bapak bilang ‘namanya saja yang kota pelajar, tapi saya yang seumur hidup tinggal di Yogya, anak saya tidak bisa kuliah karena mahalnya uang kuliah yang harus dibayar’. Miris!

Pas masuk di kamar Ibis, langsung beda banget atmosfirnya dengan Ishiro, price do not lie🙂 Istrahat bentar, aku langsung jalan menyusuri Malioboro. Ada waktu 3 jam untuk menikmati Malioboro. Tidak banyak yang berubah, namun hari itu malioboro rame bgt, dan banyak banget yang jual batik. Aku berencana mencari Coklat Monggo yang katanya made in Yogya itu di Mirota Batik.

Saat menyusuri malioboro aku melihat sekumpulan anak remaja yang lagi mengamati pembuatan kalung yang berisikan nama mereka. Dan aku langsung kepikiran untuk membuat benda yang sama untuk masing2 Modor sesuai dengan panggilan nama mereka di Modor. Kebetulan aku langsung ktemu dengan pengrajin-nya, langsung tawar menawar deh. Aku mendapatkan harga yang bagus😉

Kalung aku tinggal, dan aku bergegas menuju Mirota Batik. Namun di sepanjang perjalanan sempat memasuki beberapa toko untuk ngeliat batik. Ga ada harga yang pas untuk model yang oke, kekekkek.. Dasar kere…😀 Setibanya di Mirota Batik, oalaahhh kok ya rame banget ya. Di pintu depan ada seorang penerima tamu yaitu ibu tua (sepertinya dah 60-an tahun) yang berpakaian kebaya lengkap. Aku sempat melihat Coklat Monggo itu. Namun dodol-nya aku malah lupa beli karena dah terlanjur pusing melihat orang2 yang segitu banyaknya.

Keluar dari mirota tanpa hasil, aku menyusuri jalan kembali ke hotel. Singgah bentar di Soto Ayam 61 untuk menikmati 1 porsi soto ayam-nya. Rasanya masih tetap sama dengan terakhir yang aku cicip 4 tahun yl. Jadi ingat Niko yang pernah bilang kalo ini warung soto kegemaran ortu-nya. Hmmm… sms dia untuk bikin ngiri, hehehhe…

Kembali ke tempat pembuatan kalung, aku masih harus menunggu 15 menit lagi. Padahal sudah menjelang jam 5, dan jam 6 kurang Arya akan jemput untuk gereja. Aku suruh mas-nya utk mempercepat kerjanya. All settled.

Aku langsung pake kalung dengan tulisan ‘Ndepurba’ itu ke gereja.. Setelah jemput aku, kami jemput Jen, baru setelah itu ke GKI Gejayan. Penuh.. dapat tempat duduk di bagian yang sama sekali tidak bisa melihat ke altar. GKI Gejayan sudah semakin bagus bangunannya, semoga juga iman jemaatnya. Kata Jen di belakang gereja dibuat taman yang cukup apik dan tenang, bisa sebagai tempat untuk merenung dan berdoa.

Pulang gereja, kami makan malam di dekat kampus ukdw. Mie goreng dengan daging b2. Aku yang berniat traktir keduluan sama Arya.. emang all out banget nih layanan turangku ini, hihihihi..

Pulang gereja aku minta langsung diantarkan ke hotel, mengingat besok aku harus memulai aktivitasku pagi2, dan pastinya mereka juga. Di lobi hotel dalam mobil, aku bersalaman perpisahan dengan Arya dan Jen and say thanks for their kindness. God bless you both!.

End of the day.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s