travelling

Trip ke China (3) – Beijing Hari Pertama

Peringatan: Banyak Foto 😀

Kali ini aku akan menceritakan tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Beijing. Kami berada di kota ini dari tanggal 14 Juli – 18 Juli 2017. Selama di Beijing kami menginap di Spring Time Hostel, ambil economy room alias yang paling murah 😀 Untuk 4 malam kami bayar sekitar 1.436 yuan.

Berikut ini rute perjalanan selama di Beijing:

14 Juli 2017: Bandara Peking – Spring Time Hostel – Qianmen Street – Wangfujing Street

15 Juli 2017: Forbidden City – Niu Jie Mosque –Beijing South Rail Station

16 Juli 2017: Summer Palace – Beijing National Stadium – Wangfujing Street (lagi..)

17 Juli 2017: Great Walls

18 July 2017: with bullet train cuzzzz to Shanghai

# Bandara Peking

Selamat datang di Beijing 🙂

pesawat kami yang sedang bongkar muatan di Bandara Peking

Setelah terbang non-stop 7 jam dari Jakarta, kami mendarat dengan sempurna di Bandara Peking jam 7 pagi waktu setempat. Waktu di Beijing lebih cepat 1 jam daripada waktu Indonesia Bagian Barat. Saat menuju Imigrasi Bandara, belum ada antrian. Dengan pede kami langsung ke petugas, eh ternyata harus isi formulir kedatangan (kok di pesawat ndak ada dibagikan ya..). Balik badan ke meja tempat tempat formulir berada, isi kilat, dan akhirnya lewat dari imigrasi. Petugasnya ga ada omong apa-apa, cuma mengarahkan jarinya ke kamera, seakan bilang ‘liat kameranya, teman..’ 😀

Lepas dari imigrasi kami menuju ke tempat pengambilan bagasi. Di sini kami bertemu dengan pasutri asal Jakarta yang mau trip singkat di Beijing. Ternyata mereka tinggal di Amrik (lupa kota apa). Setelah dapat bagasi, sama-sama kami ke tempat informasi untuk menanyakan beberapa hal. Bapak Ibu pasutri mau nanya bis ke terminal lain karena dari situ ada shuttle bus hotel (gratis) tempat mereka inap, kami mau tanya di mana peron subway yang akan membawa kami ke penginapan kami. Bahasa inggris petugas informasi bikin kami sedikit frustrasi 😦 Kami dengan pasutri tadi bahkan nyaris menyetujui naik taxi dengan biaya 300 yuan untuk ke tujuan dua hotel.

Entah apa yang menahan kami sehingga kami akhirnya keukeuh mencoba untuk tetap naik subway aja. Setelah muter-muter 20 menit akhirnya dapatlah titik terang bahwa peron subway ada dua lantai di bawah tempat kami berada. Petugas subway yang ada meskipun terbata-bata coba memberitahu kami harus turun di mana. Kepada petugas tiket kami Tanya apakah bisa beli Yikatong Card, ternyata bisa. Kami minta langsung diisikan pulsa 100 yuan.

Dari Bandara Peking ada train khusus  (Airport Express Beijing Subway) yang akan membawa kita ke stasiun pusat kota (stasiun Dongzhimen dan stasiun Sanyuanqiao),  ongkos-nya 20 yuan. Kami turun di stasiun Sanyuanqiao dan ganti kereta yang akan  membawa kami ke stasiun Dongsi yang  dekat dengan penginapan kami.

di dalam Airport Express Beijing Subway, ga dapat tempat duduk 😀

# Spring Time Hostel

Menurut alamat resmi hostel, kami harus turun di stasiun Dongsi (line 5) dan keluar di exit D. Namun entah kenapa kami tidak menemukan exit D tersebut. Akhirnya kami keluar di exit B. Kamipun nyasar, hahah..

Ketika ke luar dari exit B, kami ambil jalan ke arah kanan.  Berusaha bertanya ke orang setempat, pada ndak tahu. Bahkan ketika kami bilang ‘english’  ada yang langsung menghindar. Kami ga punya peta ditambah koper yang digeret-geret cukup berat semakin membuat kami kelelahan. Ahh… seandainya kami tadi naik taxi, mungkin sudah dari tadi kami tiba di hostel *ngayal*

Tiba-tiba Debi melihat ada dua wanita berjilbab jalan dari arah yang berlawanan. Debi langsung dengan pede berkata ke mereka ‘mbak.. nanya dong..’. Eh ternyata benaran orang Indonesia. Aduh senangnya ketemu mereka, Mba Rini dan Mba Jatu. Malah ngobrol di tengah  jalan 😀

bahagianya bertemu dengan orang indonesia, hihihi.. langsung foto biar jadi barang bukti.

Mereka dari Samarinda, tiba di Beijing sehari sebelum kami, dan mereka lagi mau menuju Great Wall. Mba Jatu memberikan flyer penginapan mereka yang berisi peta sederhana daaerah sekitar penginapan mereka. Di peta tersebut ada tampak exit D Stasiun Dongsi, dan sepertinya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada. Debi lalu bertukar no HP dengan mba Rini, manatau kita bisa jalan bareng nanti.

Berbekal flyer peta kami balik arah lagi  ke exit B, jalan terus lalu menyeberangi jalan raya. Tetap aja kami ga langsung nemu exit D itu, hahha.. Bertanya lagi ke beberapa orang, sampai akhirnya seorang SPG toko pakaian dengan bahasa tubuh bilang ‘tempat itu ada di balik bangunan seberang jalan’.  And voila kami nemu Spring Time Hostel, dan Exit D itu benar-benar pas di sebelah Hostel, hahha..

depan Spring Time Hostel

Pesanan awal kami adalah kamar dengan satu tempat tidur besar, no window and no breakfast. Kepada resepsionis hotel kami minta, bila boleh, pindah ke kamar yang tempat tidurnya ada dua. Pihak hotel bilang bisa tapi baru bisa pindah besok. Ga masalah.. Ternyata harga kamarnya sama aja.

Harga kamarnya cukup mahal sih untuk sekelas hostel. Fasilitas dalam kamar standar. Disediakan teko pemanas air minum tapi ga disediakan air minum-nya, heheh.. Ada TV dengan channel lokal yang tetap aku nyalakan karena di kamar mati gaya juga ga bisa buka medsos. Bersyukur ambil kamar yang bukan sharing kamar mandi. Jadi lebih nyaman berada di kamar.

perlengkapan mandi di hostel

Di lobi penginapan mereka menjual air minum kemasan (harga-nya 3 yuan untuk ukuran 550ml), cup instant noodle (harga 6 yuan), dan beberapa jenis softdrink (harga rata-rata 6 yuan). Juga mereka punya mini coffee bar di mana kita bisa pesan hot espresso atau hot cappuccino (harganya sekitar 15 yuan). Mereka ga jual iced coffee. Kita juga bisa minta air panas (gratis) kalo mau makan mie instant.

Di dekat hotel ada bakery ‘Holiland’ dengan aneka roti enak dan harganya terjangkau. Pagi terakhir kami di Beijing, kami sempatkan sarapan (dine in) di toko roti ini. Tempatnya cozy. Di seberang hotel juga ada supermarket ‘Wu Mart’yang cukup besar. Aku sempat 2-3 kali belanja snack dan air minum di situ. Di Beijing kita harus bawa tas belanja sendiri. Kalo mau pake plastik kresek harus beli, harganya bervariasi dari 0.2 – 0.5 yuan per lembar.

Dari segi lokasi, Spring Time Hostel ini sangat recommended.

# Sekitar Penginapan

Setelah istirahat bentar dan mandi kami pun memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel. Kami masuk ke jalan-jalan kecil (disebut hutong), melihat-lihat rumah penduduk, mengamati rumah makan dan pasti foto-foto, heheh.. Juga masuk ke beberapa toko yang menjual pakaian dan mendapati harganya ga beda-beda jauh dengan harga di Jakarta (ada yang lebih murah sih) dengan model yang lumayan bagus. Debi pengen beli tetapi mikir ntar aja deh, masih ada hari esok, toh kami nginap 4 malam di Beijing. Masa’ baru dua jam keliling dah belanja 😀 Keputusan yang disesali 4 hari kemudian karena kami ga pernah lagi sempat datang ke pertokoan pakaian sekitar hostel, hehehe..

bangunan di Hutong
nyaris dicium sepeda motor yang ga ada terdenggar suara mesinnya, wkwkw..

Kami coba mencari rumah makan yang seperti-nya halal, tapi tetap ga ada yang meyakinkan Debi. Kami juga tidak ada menyiapkan tulisan ‘halal’ atau ‘no pork’ dalam aksara Cina. Jadi sia-sialah kami menyebutkan ‘chicken’ atau ‘pork’ atau ‘beef’? Penjualnya toh ga ngerti. Kami ga kepikir juga untuk acting as atau menirukan suara hewan-hewan itu, hahah.. Akhirnya kami ke rumah makan dekat penginapan dan aku saja yang makan mie rebus. Debi nanti beli roti aja,  katanya. Teringat pesan kak Rumenta untuk nyoba makan mie dan foto mie pas di Beijing . Cekrek..cekrek… baru makan deh.

mie rebus tampak plain rasanya. harganya sekitar 15 yuan
ga dikasih sendok, jadi seruput aja kayak pengunjung lain. Eh, ternyata kalo mau pake sendok ambil sendiri dekat pintu masuk, hahah..

# Qianmen Street

Selesai makan tujuan kami berikutnya adalah Qianmen Street yang bisa dicapai dengan naik subway dan turun di Stasiun Qianmen (Line 2) keluar dari exit B atau C. Untuk mencapai stasiun tujuan akan sangat mungkin berganti kereta karena beda line dengan line stasiun awal kita masuk. Kita harus perhatikan benar peta subway line biar bisa memutuskan mana jalur subway yang paling efisien waktunya. Aku dan Debi sudah ada pengalaman dengan subway di Jepang, jadi seharusnya kami akan baik-baik saja dengan subway di Beijing ini 😀

Tiba di stasiun Qianmen kami keluar dari exit B. The landscape was ‘wow’ us (apa sih bahasanya, hahah..). Di hadapan kami  terpampang jalan raya yang luaaass banget. Pejalan kaki yang mau menyeberang harus lewat lorong bawah tanah. Jadi capek gitu loh turun naik tangga 😀

luaaass kan?? ini masih dari satu sisi..
dari sisi lain.. nampak dari kejauhan Zhengyangmen Archery Tower dan Zhengyangmen Gatehouse

Di bawah teriknya sinar matahari kami berjalan mengitari  kawasan itu. Baru jalan bentar baju sudah basah dengan keringat. Banyak tempat yang kami ga tau namanya apa karena tidak ada tulisan dalam huruf latin. Setelah gugel (saat bikin tulisan ini) berdasar foto-foto yang kami ambil, jadi di sekitar kawasan ini kita akan menemukan Zhengyangmen Archery Tower, Zhengyangmen Gatehouse, China Railway Station, Madame Tussauds.

Zhengyangmen Archery Tower
Zhengyangmen Gatehouse
China Railway Station. Sesaat jadi ingat Stasiun Kota di Jakarta
Madame Tussauds ada di kawasan yang jadi background 🙂

Ingin istrahat sebentar maka kami duduk di taman kebetulan kami lewati. Ada juga penduduk lokal yang lagi santai-santai di sini. Aku melihat ada seorang ibu bersama dengan dua orang anaknya, satu orang balita perempuan (sekitar 2 tahun) dan satu orang anak laki-laki sekitar 6 tahun. Nah, anak balitanya itu ndak pake celana (bawahan) terus tiba-tiba pup gitu aja di taman itu, pup di beberapa titik. Heh? Ibunya seakan membiarkan saja anaknya itu pup sembarangan. Anak laki-lakinya bahkan ketawa-tawa ketika ada pejalan kaki yang ga sadar kalo menginjak sedikit pup balita itu. Aku dan Debi shock berat. Meski jijik kami tetap kepo apa reaksi si Ibu selanjutnya, hahah..  Untunglah si Ibu ntah dengan apa (ga nampak jelas)  membersihkan/membuang pup anaknya itu dari taman. Haiyaahh… horor!

untuk transaksi ini ga ada kendala bahasa, cukup menunjukkan jari untuk menyebutkan harga 🙂
taman di mana kami melihat kejadian ‘horor’ itu, wkwkwk..

Sebenarnya di Qianmen Street ini banyak pertokoan menjual barang dengan brand internasional dan juga dekat dengan Dashilan Street yang menjual aneka souvenir khas China. Kami memutuskan untuk tidak memasuki pertokoan karena belum pengen belanja. Setelah lelah terasa berkurang, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan.

# Wangfujing Street

Hampir jam 8 malam ketika kami pergi ke Wangfujing Street. Walaupun begitu langit masih tampak terang, maklum lagi summer. Kami naik subway dan sesuai dengan petunjuk kami turun di Stasiun Wangfujing (line 1) dan keluar dari exit A. Di kawasan Wangfujing Street ini lagi-lagi banyak pertokoan dengan sinar indah dari lampu-lampu yang menyala.

terang benderang dengan nyala lampu
itulah itu 😀

Di kawasan ini kami liat ada Bookstore yang besar banget, tapi karena udah malam, ya kami foto-foto aja di luar bookstore :p. Kami juga akhirnya menemukan rumah makan muslim yang cukup besar di sini. Ketika sampai depan resto kami baca informasi kalo resto tutup jam 9 malam, sementara saat itu sudah jam 8.30 malam. Akan buru-buru sekali untuk order dan makan dalam waktu 30 menit. Akhirnya kami langsung menuju ke arena street food.

tampak depan kawasan food street yang tersohor itu

Well, baru kali ini aku lihat kalajengking yang masih gerak-gerak menuju gilirannya digoreng bila ada pembeli yang berminat untuk memakannya. Tempat ini sangat ramai dengan pengunjung dan stall yang menyajikan beraneka ragam makanan dan minuman dengan display yang menarik. Ada sate buah, sate binatang-binatang ekstrim (kayak kalajengking ituuu!), aneka olahan pork, manisan buah, aneka jus, dll. Pengen beli sosis b2 tapi ga enak ama Debi meskipun dia totally fine kalo aku mau makan pork. Duh jiwa yogyaku lebih berperan 😉 Banyak juga yang menjual oleh-oleh seperti tempelan magnet, kaos, kipas, dll.

sate buah potong siap dimakan.
sate manisan strawberry. Duh gulanya…
masih hidup.. serem 😦

Kami sukses tidak membeli apapun di tempat ini, hahaha.. Sungguh, ini bukanlah suatu kesukesan 😀

–//–

Tiba kembali di penginapan jam 10 malam lewat dikit. End of day 1 😀

hari-hari

Dua Jam

Sudah hampir 3 bulan ini aku menggunakan jasa Ibu Imah (loh namanya mirip dengan nama kecilku, hahah..) untuk membersihkan rumahku. Beliau datang 3x seminggu. Pekerjaannya mencakup: nyapu dan ngepel (kecuali kamar tidurku), mencuci dan menyetrika pakaian (kecuali underwear ya aku cuci sendiri), membersihkan meja/jendela secara berkala, menyikat kamar mandi dan sesekali mencabuti rumput liar di halaman.

Beberapa hari yang lalu kebetulan aku masih ada di rumah ketika Ibu Imah datang. Aku lagi berada di kamar tidur ngerjain sesuatu ketika si Ibu mulai kerja. Setelah 2 jam, Ibu Imah pamit. Haaah? Cuma 2 jam dan rumahku sudah kinclong, pakaian sudah disetrika. Paten!

Terinspirasi dengan kecepatan Ibu Imah, Senin kemaren (07 Agt 2017) aku pun nge-test pekerjaan rumah apa yang bisa aku selesaikan dalam waktu dua jam. Hanya ini yang berhasil kulakukan: mengganti seprei tempat tidur, mencuci 10 pasang underwear, masak sayur dan ikan (termasuk memotong-motong sayur dan menggiling bumbu).  Udah itu saja. Bahkan dalam waktu 2 jam itu aku tidak sempat menyapu atau pun mencuci peralatan masak.

Waaa.. kecepatan bergerakku sudah berkurang drastis *sedih*

Pekerjaan rumah apa yang bisa kamu selesaikan dalam waktu 2 jam? 🙂

foto diambil dari dreamstimedotcom

teman · travelling

Trip Ke China (2) – Yang Kami Lihat

Pengen berbagi pengalaman seru saat mbolang ke Beijing dan Shanghai kemaren. Posting kali ini aku bagikan hal umum yang aku temukan/lihat selama berada di Beijing dan Shanghai bulan lalu.

Waktu Trip: 14-22 Juli 2017 (musim panas)

Jumlah Peserta: 2 orang

Duo nande karo. Debi & Ndepur

# Kota yang Bersih

Menurutku Beijing dan Shanghai adalah kota yang bersih, terlihat di berbagai tempat yang kami datangi tidak ada sampah yang bertebaran. Jalan-jalan protokolnya lebar-lebar dan tertib.

kawasan rumah penduduk di jalan yang kecil (gang). Bersih kan?

# Sepeda

Sangat banyak para orang muda (orang tua juga ada sih..) di Beijing dan Shanghai yang mengayuh sepeda untuk membawa mereka ke tempat tujuan, dan sepertinya bisa parkir di mana aja. Aku ngga tahu apakah mereka membayar parkir atau gratis, namun selama di sana tidak pernah melihat ada petugas parkir. Sepeda tersusun dengan rapi di depan area pertokoan, area luar stasiun kereta, area perkantoran, area taman/publik. Kerennya lagi sepeda-sepeda ini dikunci dengan aplikasi lock yang ada di handphone, jadi ketika mau membuka lock-nya, cukup dengan men-scan QR code yang ada di masing-masing sepeda. Dengan cara ini kecil kemungkinan sepeda akan dicuri karena alarm akan berbunyi bila ada perlakuan yang tidak semestinya terjadi pada sepeda.

Sepeda terparkir dengan rapi di depan pertokoan

# Sepeda Motor

Sepeda motor di China ga kedengaran suara mesinnya. Jadi beberapa kali kami kaget karena tiba-tiba sudah ada aja motor lewat di samping kami. Katanya motor di China ini menggunakan tenaga listrik atau dynamo, makanya ga ada suaranya ketika dijalankan. Banyak orang tua yang mengendarai motor ini, biasanya mereka pakai untuk pergi belanja, antar jemput anak sekolah. Mungkin karena lagi musim panas (summer) banyak juga pengendara motor ini menambahkan pengaman untuk tubuh mereka biar tidak terlalu kena sinar matahari. Kadang-kadang terkesan lebay lihat outfit tambahan mereka ini 😀

Oh ya, tidak ada yang pakai helm ketika mengendarai motor ini.

# kereta bawah tanah (Subway/Metro)

Nah, kalo yang ini adalah transportasi massal local di China. Di Beijing disebut subway, sementara di Shanghai disebut Metro. Selama di sana, kami hanya menggunakan ini sebagai sarana transportasi ke berbagai tempat dalam kota. Di Beijing kami menggunakan kartu Yikatong yang bisa dipakai berhari-hari selama pulsanya masih ada dan sisa pulsa bisa di-refund, sementara di Shanghai kami membeli One Day Card seharga 18 yuan yang bisa dipakai berkali-kali dalam satu hari. Ongkos naik kereta ini mulai dari 2 yuan – 9 yuan, tergantung jarak tempuh.

Untuk mengetahui banyaknya subway/metro line di China dan informasi stasiun, bisa cek di https://www.travelchinaguide.com/cityguides/beijing/subway-map.htm (Beijing)

https://www.travelchinaguide.com/cityguides/shanghai/transportation/subway.htm. (Shanghai)

Di Beijing kami nyasar parah hanya sekali ketika pertama kali nyampe stasiun Dongsi. Nah, entah kenapa selama di Shanghai kami berdua agak sering nyasar di metro line, hahha.. dan akibatnya kami bisa habiskan waktu 30 menit berjalan kaki di dalam stasiun metro karena nyasar ini. Kok lama banget bisa sampai 30 menit? Karena jarak antar line di satu stasiun cukup jauh, begitu pun jarak ke pintu exit-nya ketika kita keluar dari subway/metro.

Pengawasan terhadap barang bawaan cukup ketat di dalam stasiun kereta. Di Beijing, sebelum kita melewati mesin untuk men-tap kartu kereta, seluruh bawaan kita harus dimasukkan ke dalam mesin pemindai (seperti yang di bandara-bandara itu loh). Sangat disarankan untuk memasukkan air minum ke dalam tas, karena apabila terlihat kita menenteng air minum, maka petugas akan meminta kita untuk menghabiskan minuman itu, kalau tidak maka air minum itu akan ditahan petugas. Tapiii.. ada juga yang lolos bisa tetap menenteng air minumnya. Ternyata, bisa bargain ke petugasnya dengan cara air minum tersebut ditimbang dan di-cek kadarnya di alat ukur yang ada dekat mesin pemindai. Kalau hasilnya ok, maka air minum tersebut tidak akan ditahan oleh petugas. Kami tentu saja tidak bisa melakukan itu karena kendala bahasa, hahaha..

Agak berbeda dengan di Shanghai, pengawasan terhadap barang bawaan sedikit longgar. Kalo kita membawa tas yang agak kecil, petugas ga memaksa kita untuk meletakkan ta situ ke dalam mesin X-ray. Termasuk air minuman bisa kita tenteng saja.

di luar shanghai station. Luasss..

 

# No Facebook, Google and Instagram

Di China ada beberapa web/media sosial yang tidak bisa diakses seperti Facebook, Instagram, Blogspot, Google dan turunannya. Pemerintah China mengembangkan sendiri aplikasi media sosial dan searching engine mereka seperti webo (semacam facebook), baidu (searching engine), we chat (seperti Whatsapp). Jadi selama di sana kebutuhan untuk eksis di medsos tidak terpenuhi, hehhe.. Untungnya Whatsapp belum diblokir, jadi masih bisalah chatting dengan teman-teman di Indonesia via WA.

Ada cara untuk bisa mengakses web/medsos yang di-block itu dengan menggunakan VPN ataupun lantern. Aplikasi ini harus di-donlot dulu sebelum berangkat ke China sehingga sampai di China tinggal menggunakan saja.

# Bahasa Inggris

Kami sudah dengar kabar kalau susah menemukan penduduk China yang bisa berbahasa Inggris. Dan betul saja, kami harus menggunakan banyak bahasa tubuh untuk bisa menyampaikan pertanyaan kami. Bahkan kemampuan berbahasa Inggris petugas bagian informasi di bandara  Peking dan Shanghai Railway Station yang seharusnya sudah bersifat ‘Internasional’ sangat terbatas. Cara paling tepat/efisien sebenarnya menunjukkan tempat/lokasi yang kita ingin tuju dalam aksara/tulisan China, jadi sebaiknya sebelum berangkat ke China kita sudah menyiapkan tulisan-tulisan tersebut.

Untungnya pegawai resepsionis di tempat penginapan kami di Beijing maupun Shanghai cukup mumpuni  kemampuan berbahasa Inggris sehingga bisa memberikan informasi yang kami butuhkan. Well, di Negara ini bahasa inggris kami yang abal-abal pun terlihat jadi sangat meyakinkan, hahaha..

di halte bus. Papan rute bus dalam aksara China semua. Lost in translation 🙂

# Toilet

Nah ini hal horor yang selalu kudengar selama ini tentang China. Horor maksudnya jorok dan bau. Toilet di China (termasuk kamar mandi di hotel) tidak menyediakan air untuk berbasuh setelah pipis atau pup, jadi terbayanglah gimana aromanya. Mungkin karena musim panas, untungnya aku jarang ingin buang air selama berada di lokasi wisata, cairan sudah terbuang melalui keringat, hehhe..  Selama di sana aku hanya menggunakan toilet di Bandara, di Railway Station dan di satu mall. Di ketiga tempat tersebut semua toiletnya bersih, paling aromanya saja yang agak asam 😀

Oh ya, aku juga pernah melihat ibu-ibu yang tidak menutup pintu toilet ketika buang air. Tentu saja aku kaget dengan kepedean mereka ini. Ternyata, tidak menutup pintu toilet adalah hal biasa di China.

Tips: Jangan buang botol kosong bekas air minum. Botol ini bisa dipakai untuk menampung air untuk berbasuh.

# Cara Pembayaran

Selama di Beijing dan Shanghai aku perhatikan penduduk setempat melakukan pembayaran tanpa uang tunai, tapi dengan e-money melalui aplikasi yang ada di handphone, baik itu transaksi di toko, stasiun kereta bahkan pedagang kaki lima. Dengan cara ini bisa meminimalkan peredaran uang palsu dan juga pencopetan. Di sisi lain, bila kita membayar dengan uang tunai maka petugas akan bolak-balik men-cek keaslian uang kita. Pernah uang 50 yuan ku ditolak oleh kasir toko karena menurutnya uangku itu lusuh. Rada sebel karena aku dapat uang itu juga ya dari pengembalian pembayaran dari toko yang lain.

Pembayaran dengan kartu kredit juga bisa. Untuk penginapan di Beijing dan Shanghai kami bayar dengan kartu kredit punya Debi. Tapi pernah juga gagal saat kami mau bayar tiket bullet train Beijing-Shanghai. Akhirnya terpaksa bayar dengan uang tunai dan bolak balik lah uang kami itu masuk mesin pemindai uang 😀

# Model Pakaian

Mungkin karena musim panas maka rata-rata perempuan muda di Beijing/Shanghai memakai hot pants, kalau perempuan paruh baya pakai celana selutut. Aku tidak melihat ada kesan ingin menunjukkan keseksian ketika mereka menggunakan hot pants. Rasanya pantas dan normal saja dengan gaya berpakaian mereka. Model pakaiannya pun oke-oke banget di badan mereka, ga terkesan lebay. Bentuk tubuh mereka langsing-langsing sih, jadi semua mode pakaian cocok mereka pakai 🙂  Untuk para pria juga biasa aja, ga ada model pakaian yang aneh. Normal aja semua.

Kami perhatikan juga bahwa perempuan di Beijing/Shanghai jarang yang menggunakan make-up, lipstick aja pun ngga. Jangan-jangan pake bedak pun ngga juga, hahah.. Mungkin karena kulit mereka dah halus dan mulus dari sono-nya jadi tanpa polesan yang berlebih sudah tampak segar. Alis juga kayaknya jarang nemu yang dibentuk/bentuk gitu 🙂

Selama di sana aku ga pernah menemukan iklan produk pelangsing badan, hihihi..

— // —

Segini dulu deh yang bisa dibagikan. Nanti di-update lagi kalo ada hal lain yang diingat.

travelling

Trip ke China (1)

Pertengahan Juli 2017, tepatnya tanggal 13-22 Juli 2017 aku akan mbolang ke negeri China. Kali ini aku akan pergi bersama dengan Debi, teman SMP dulu. Sebelumnya kami dah pernah mbolang bersama ke Makassar sekitar 6 tahun yang lalu.

Bulan Maret 2017 Debi membeli tiket Jakarta – Beijing dan Shanghai – Jakarta di GATF dengan harga cukup ‘murah’, sekitar Rp 5.1 juta. Ini penerbangan langsung. Bulan Mei kami mulai aktif mencari-cari info lokasi wisata mana saja yang mau kami kunjungi selama trip 10 hari ini. Beruntung sekali ada seorang blogger asal Medan yang menceritakan perjalanan liburan keluarganya ke China tahun 2016 dengan cukup detail. Pada akhirnya kami mencontek sekitar 80% itinerary perjalanannya dan memesan penginapan yang sama. Males rempong, hehhe..

Bulan Juni, menjelang libur lebaran, kami menyempurnakan itinerary trip kami, memesan online penginapan kami di Beijing dan Shanghai. Awal bulan Juli kami mengajukan permohonan visa China. Debi menggunakan layanan jasa agen untuk mengurus visa ini di Jakarta, sementara aku mencoba mengurus sendiri di Medan.

Dalam website www.visaforchina.org cukup detail dijelaskan dokumen apa yang harus dipersiapkan, biaya resmi visa, alamat pengajuan visa, dll. Aku sendiri mengisi online formulir pendaftaran lalu mencetaknya di kertas ukuran A4. Tanggal 2 Juli 2017 aku mempersiapkan seluruh dokumen wajib: paspor asli, fotokopi halaman paspor yang menunjukkan data diri dan tanda tangan, formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap, bukti tiket pesawat pergi pulang, bukti pemesanan penginapan selama di China, foto terbaru berlatar belakang warna putih ukuran 48mm x 33mm. Selain itu aku juga mempersiapkan dokumen pendukung: itinerary perjalanan, fotokopi kartu keluarga, fotokopi mutasi rekening tabungan 3 bulan terakhir.

Tanggal 3 Juli 2017, sebelum jam 9 pagi aku sudah sampai di Visa For China Centre di gedung Royal Condominium, di Jl. Palang Merah. Ternyata pagi itu masih sedikit yang mau urus visa, mungkin karena masa libur lebaran dah lewat. Dari semua berkas dokumen pendukung yang kubawa, yang diterima cuma itinerary perjalanan. Jadi kartu keluarga dan rekening tabungan ga perlu.

Foto yang aku bawa diukur, ternyata panjangnya ga sampai 48mm bila dihitung dari garis dalam. Tetap diterima oleh mbak petugasnya, semoga ga jadi masalah saat review berkas oleh konsulat, katanya.

Total biaya pengurusan visa China ini Rp540.000,- terdiri dari biaya visa Rp300.000,- dan biaya Visa Center Rp240.000,-. Petugasnya menjelaskan bila permohonan visa ditolak, pemohon tetap harus membayar Rp240.000,- dan kita diminta untuk menandatangani surat pernyataan terkait hal ini. Pembayaran visa dilakukan saat pengambilan visa/paspor. Menurutku sistem ini lebih fair ya dibanding pengurusan visa untuk beberapa Negara lain yang wajib bayar penuh di depan padahal belum tentu di-approve permohonan visanya.

Menjelang jam 3 siang, dapat telepon dari visa center. Mereka bilang perlu bukti booking hotel yang mencantumkan namaku. Mereka minta di-email-kan bukti booking tersebut . Wadooh.. untung di sebelah toko ada warnet. Buru-buru screenshot halaman web yang ada namaku dan kirim ke mereka. Moga bisa diterima. Miris banget kalo sampe visa ditolak karena penginapan.

Untuk trip 10 hari ini pengeluaran yang aku anggarkan sekitar Rp16.000.000,- (8.000 yuan) all in. Secara umum pembagiannya: tiket pesawat Medan – Jakarta return 3 juta, tiket pesawat Jakarta – Beijing, Shanghai – Jakarta 5.1 juta, penginapan 8 malam 3 juta, bullet train Beijing – shanghai 1.1 juta, transportasi dalam kota dan tiket masuk lokasi wisata 1 juta, bullet train Shanghai – Suzhou return 0.2 juta, makanan dan minuman 1.5 juta, biaya visa (termasuk cetak foto, fotokopi, dll) 0.6 jt, biaya lain-lain 0.5 juta.

Tidak sabar untuk segera mbolang..

Itinerary Trip Beijing Shanghai July 2017 for blog

film

Wonder Woman

tulisan di buku

06.Jun.2017 Pukul 00.44 wib. Mataku jauh dari kata ngantuk. Mungkin pengaruh kopi sanger panas yang aku minum jam 9 malam tadi. Menulis… mungkin bisa membuatku menghabiskan menit demi menit dengan sesuatu yang berguna.

Tadi Kemaren topic postingan di WA Group ataupun FB-ku banyak yang membahas tentang film Wonder Woman, terkhusus tentang sosok pemerannya, artis berdarah Israel: Gal Gadot. Aku nonton film ini di hari perdana pemutarannya di Indonesia (31 Mei 2017). Apa isi film ini silahkan gugel aja ya karena aku kurang oke untuk menceritakannya kembali. Namun, seperti apa yang diucapkan Bella Diana a.k.a si Wonder Woman yang paling aku ingat: ‘I believe in love’, ya CINTA lah yang menjadi tema film ini. Cinta yang mengalahkan kejahatan.

Aku suka membaca kisah-kisah nyata tentang orang menemukan cinta sejatinya. Aku cepat terharu ketika menonton film bertema cinta. Aku suka mendengarkan cerita orang-orang (baik yang aku kenal maupun tidak) tentang bagaimana pengalaman mereka berproses bersama pasangannya menuju pelaminan. Ada yang penuh liku, banyak drama. Namun ada juga yang begitu simple, sangat lancar jaya, tanpa halangan yang berarti. I am still waiting for my own version.

Kembali tentang Gal Gadot, dari hasil searching di Google, ternyata Gal lagi hamil 4 atau 5 bulan ketika syuting film ini. What? Aku ga bisa membayangkan.

Body-nya padat berisi tidak tampak seperti hamil. Dua bulan setelah melahirkan, body-nya dah balik langsing lagi. Pasti banyak wanita yang iri dengan kenyataan ini, heheh.. Keren banget pokoknya.

Ketika aku menulis ini (di buku), tayangan World News di channel Metro TV juga sedang membahas film Wonder Woman yang jadi box office. Juga ada disebutkan film lain yaitu The Book Of Henry. Hmm.. sepertinya recommended untuk ditonton. Semoga tayang di bioskop Indonesia.

Akhirnya kantuk ku datang. Mari istrahat.

(Pukul 01.08 wib)

buku

Berburu Buku

Bulan Mei merupakan bulan baca nasional dan secara kebetulan di bulan ini aku banyak berurusan dengan buku. Dimulai dengan ‘detox’ buku dari lemari dan kardus.

Sejak beberapa bulan yang lalu aku berniat untuk mendonasikan buku ke perpustakaan kampus WBI dan Yayasan Alusi Tao Toba. Hambatannya cuma satu: aku malas banget bongkar-bongkar kardus. Puji Tuhan, di bulan ini aku ‘berhasil’ membuang mood malas untuk beberapa jam, sehingga bisa bongkar-bongkar dan hampir 40 buah buku telah diberikan ke perpustakaan kampus WBI. Moment bongkar-bongkar membuat aku sadar kalau kardus-kardus  buku itu tidak pernah berpindah temapat selama lebih dari 2 tahun ini.

Masih ada banyak buku yang bisa aku sumbangkan. Namun, ada juga buku yang belum rela untuk aku berikan. Misal novel terjemahan karya Paulo Coelho (ada sekitar 10 buku). Meskipun aku tahu novel-novel itu kemungkinan besar tidak akan aku baca lagi, hehehe..  Sabar ya Alusi Tao Toba. Segera ketika mood malasku off, buku-buku itu akan segera berpindah tempat.

Di awal bulan ini, ketika lagi berada di Plaza Medan Fair, tetiba pengen beli buku obral di Gramedia. Dapat 3 buah novel yang terbit lebih dari 5 tahun yang lalu. Harganya cuma Rp20.000,- per novel. Murah ya.

Novel yang dibeli di awal bulan

Pertengahan Mei mendapat oinfo kalau ada promo diskon 30% semua buku di seluruh Gramedia bila membayar dengan menggunakan kartu kredit atau kartu debit BNI. Ini promo yang sangat menarik mengingat harga buku sekarang cukup mahal, menurutku. Misal novel terjemahan yang terbit tahun ini minimal harganya Rp100.000,-. Jadi lumayan banget kan kalau bisa dapat diskon 30%.

Aku nggak punya kartu apapun berlogo BNI, but lucky me, temanku Aga punya dan dia mau kartunya ditebengi. Aku googling mencari tahu buku bermutu apa yang layak dibeli, dan pilihan jatuh kepada buku seri (tetralogi) karangan Pramoedya Ananta Tour. Aga mendukung hasil googling-ku karena dia sudah selesai membaca seluruh buku tetralogi itu. Semangat mencari, namun sayangnya buku pertama (Bumi Manusia) dari seri tetralogi ini habis stoknya di Gramedia Sun Plaza. Kata Aga, sebaiknya membaca dari buku yang pertama biar nyambung. Agak sedih, tapi mungkin akan berjodoh dengan Tetralogi ini di promo Gramedia berikutnya.

Malam itu perburuan buku dengan kartu BNI membuatku membawa pulang 4 buah novel (lagi) dengan biaya total sekitar Rp250.000,-. Senang hatiku bisa membaui ‘aroma buku’ di toko buku ini. Meski juga merasa agak aneh toko buku ini terasa sepi dari pengunjung. Padahal beberapa tahun yang lalu ketika masih tinggal di Jakarta, kalau ada promo diskon seperti ini, toko Gramedia pasti disesaki orang. Menurut Aga, mungkin karena bukan saat akhir pekan. Menurutku, mungkin memang minat membaca buku turun drastis dan tergantikan oleh media sosial atau pun media elektronik.

Buku yang dibeli saat promo

Esok harinya setelah perburuan buku di toko Gramedia, aku masih penasaran dengan buku ‘Bumi Manusia’ Pramodya itu. Kebetulan hari itu jadwalku belanja di Pusat Pasar, maka aku sempatkan mampir ke Gramedia Medan Mall. Kaget aku karena tidak menemukan Gramedia di sana. Ternyata sudah tutup dari Desember 2016. Beuh, kok aku ketinggalan info ini ya?

Aku melihat ada toko buku yang lain yang buka di sebelah toko ex Gramedia. Info diskon besar-besaran yang tampak dari luar menarik aku untuk masuk ke dalam toko. Okay, buku-buku yang diobral itu ya buku-buku lama. Banyak yang sampul plastiknya tampak berdebu ataupun kertasnya menguning.

Aku menemukan buku ‘Bumi Manusia’ di toko ini dan harganya miring benar, cuma Rp40.000,-. Ini membuatku ragu akan keaslian buku ini, jangan-jangan cuma fotokopi yang tidak memberikan royalti kepada penulisnya. Jadi, aku tunda lagi membeli buku ‘Bumi Manusia’ ini. Niat ga sih sebenarnya, Nde? Banyak kali alasannya 😀

Pantang rasanya keluar dari toko buku tanpa buku, hehehe.. Dari toko ini (aku lupa nama tokonya) aku membeli 3 buah buku dan harga yang harus kubayar hanya Rp100.000,-. Murah kata Aga. Muraaaah banget menurutku karena buku-buku itu ga jadul-jadul amat tahun terbitnya 😀

Buku murah lainnya

Bila disimpulkan maka di bulan baca nasional 2017 ini aku mengirimkan ke luar sekitar 40 buku dan memasukkan 10 buku baru. Dari 10 buku tersebut sudah selesai dibaca 3 buku. Ada 7 lagi plus belasan buku lainnya yang sudah lama dibeli namun belum selesai dibaca.

Mengingat masih banyak koleksi buku yang kumiliki tapi belum dibaca dan masih terbuka kemungkinan membeli buku-buku lagi, sepertinya ide yang bagus kalau aku inventaris  lagi buku yang aku punya, buat page-nya di blog ini dan di-update semampunya.

Mari membaca!

hari-hari

Shopping Time

When Saturday comes, it means shopping time!!

Kayaknya seru banget ya kalo tiap Sabtu bisa shopping, hehheh.. well, belanja ala gw di hari Sabtu adalah belanja barang dagangan di Pusat Pasar (PP a.k.a Sambu atau Sentral) 😀

Hari ini (13 Mei 2017) agak rekor juga jumlah toko yang gw datangi: 12 toko! Sebenarnya ada 5 toko lain yang gw datangi karena nyari meja khusus untuk menyetrika. Jadi total jendral 17 toko. Pantes rasanya kaki gw gempor.

Menjelang tengah hari gw nyampe di PP, untung ga pake mutar-mutar lama untuk dapat tempat parkir. Sekitar jam 3 sore gw selesai transaksi di PP, lanjut ke daerah Jl. Cirebon untuk beli barang-barang aksesoris. Cuma transaksi di 3 toko, tapi ga terasa hampir 3 jam juga gw berada di kawasan ini. Jam 6 sore baru gw selesai belanja, itu pun karena toko yang gw incar sudah tutup, hihihi.. Untung masih sempat beli mie pecal sayur plus sate jengki 3 tusuk sebagai late lunch yang gw makan sepanjang perjalanan pulang. Loh, kan nyetir, gimana bisa makan? Tenang.. gw baru ngunyah pas lagi berhenti di lampu merah kok, hehehe…

Sampai toko sekitar jam 7 malam, badan kayak rontok rasanya. Pantas aja lah ya, dari jam 11 siang sampai 6 malam asik keluar masuk toko aja gw. Tapi hati senang kok, apalagi kalo Sabtu depan belanja barang yang sama lagi, itu artinya barang belanjaan gw laku terjual 🙂

Mau keliling PP dengan gw Sabtu depan? Gw traktir sate jengki deh 😉