travelling

Trip ke China (1)

Pertengahan Juli 2017, tepatnya tanggal 13-22 Juli 2017 aku akan mbolang ke negeri China. Kali ini aku akan pergi bersama dengan Debi, teman SMP dulu. Sebelumnya kami dah pernah mbolang bersama ke Makassar sekitar 6 tahun yang lalu.

Bulan Maret 2017 Debi membeli tiket Jakarta – Beijing dan Shanghai – Jakarta di GATF dengan harga cukup ‘murah’, sekitar Rp 5.1 juta. Ini penerbangan langsung. Bulan Mei kami mulai aktif mencari-cari info lokasi wisata mana saja yang mau kami kunjungi selama trip 10 hari ini. Beruntung sekali ada seorang blogger asal Medan yang menceritakan perjalanan liburan keluarganya ke China tahun 2016 dengan cukup detail. Pada akhirnya kami mencontek sekitar 80% itinerary perjalanannya dan memesan penginapan yang sama. Males rempong, hehhe..

Bulan Juni, menjelang libur lebaran, kami menyempurnakan itinerary trip kami, memesan online penginapan kami di Beijing dan Shanghai. Awal bulan Juli kami mengajukan permohonan visa China. Debi menggunakan layanan jasa agen untuk mengurus visa ini di Jakarta, sementara aku mencoba mengurus sendiri di Medan.

Dalam website www.visaforchina.org cukup detail dijelaskan dokumen apa yang harus dipersiapkan, biaya resmi visa, alamat pengajuan visa, dll. Aku sendiri mengisi online formulir pendaftaran lalu mencetaknya di kertas ukuran A4. Tanggal 2 Juli 2017 aku mempersiapkan seluruh dokumen wajib: paspor asli, fotokopi halaman paspor yang menunjukkan data diri dan tanda tangan, formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap, bukti tiket pesawat pergi pulang, bukti pemesanan penginapan selama di China, foto terbaru berlatar belakang warna putih ukuran 48mm x 33mm. Selain itu aku juga mempersiapkan dokumen pendukung: itinerary perjalanan, fotokopi kartu keluarga, fotokopi mutasi rekening tabungan 3 bulan terakhir.

Tanggal 3 Juli 2017, sebelum jam 9 pagi aku sudah sampai di Visa For China Centre di gedung Royal Condominium, di Jl. Palang Merah. Ternyata pagi itu masih sedikit yang mau urus visa, mungkin karena masa libur lebaran dah lewat. Dari semua berkas dokumen pendukung yang kubawa, yang diterima cuma itinerary perjalanan. Jadi kartu keluarga dan rekening tabungan ga perlu.

Foto yang aku bawa diukur, ternyata panjangnya ga sampai 48mm bila dihitung dari garis dalam. Tetap diterima oleh mbak petugasnya, semoga ga jadi masalah saat review berkas oleh konsulat, katanya.

Total biaya pengurusan visa China ini Rp540.000,- terdiri dari biaya visa Rp300.000,- dan biaya Visa Center Rp240.000,-. Petugasnya menjelaskan bila permohonan visa ditolak, pemohon tetap harus membayar Rp240.000,- dan kita diminta untuk menandatangani surat pernyataan terkait hal ini. Pembayaran visa dilakukan saat pengambilan visa/paspor. Menurutku sistem ini lebih fair ya dibanding pengurusan visa untuk beberapa Negara lain yang wajib bayar penuh di depan padahal belum tentu di-approve permohonan visanya.

Menjelang jam 3 siang, dapat telepon dari visa center. Mereka bilang perlu bukti booking hotel yang mencantumkan namaku. Mereka minta di-email-kan bukti booking tersebut . Wadooh.. untung di sebelah toko ada warnet. Buru-buru screenshot halaman web yang ada namaku dan kirim ke mereka. Moga bisa diterima. Miris banget kalo sampe visa ditolak karena penginapan.

Untuk trip 10 hari ini pengeluaran yang aku anggarkan sekitar Rp16.000.000,- (8.000 yuan) all in. Secara umum pembagiannya: tiket pesawat Medan – Jakarta return 3 juta, tiket pesawat Jakarta – Beijing, Shanghai – Jakarta 5.1 juta, penginapan 8 malam 3 juta, bullet train Beijing – shanghai 1.1 juta, transportasi dalam kota dan tiket masuk lokasi wisata 1 juta, bullet train Shanghai – Suzhou return 0.2 juta, makanan dan minuman 1.5 juta, biaya visa (termasuk cetak foto, fotokopi, dll) 0.6 jt, biaya lain-lain 0.5 juta.

Tidak sabar untuk segera mbolang..

Itinerary Trip Beijing Shanghai July 2017 for blog

film

Wonder Woman

tulisan di buku

06.Jun.2017 Pukul 00.44 wib. Mataku jauh dari kata ngantuk. Mungkin pengaruh kopi sanger panas yang aku minum jam 9 malam tadi. Menulis… mungkin bisa membuatku menghabiskan menit demi menit dengan sesuatu yang berguna.

Tadi Kemaren topic postingan di WA Group ataupun FB-ku banyak yang membahas tentang film Wonder Woman, terkhusus tentang sosok pemerannya, artis berdarah Israel: Gal Gadot. Aku nonton film ini di hari perdana pemutarannya di Indonesia (31 Mei 2017). Apa isi film ini silahkan gugel aja ya karena aku kurang oke untuk menceritakannya kembali. Namun, seperti apa yang diucapkan Bella Diana a.k.a si Wonder Woman yang paling aku ingat: ‘I believe in love’, ya CINTA lah yang menjadi tema film ini. Cinta yang mengalahkan kejahatan.

Aku suka membaca kisah-kisah nyata tentang orang menemukan cinta sejatinya. Aku cepat terharu ketika menonton film bertema cinta. Aku suka mendengarkan cerita orang-orang (baik yang aku kenal maupun tidak) tentang bagaimana pengalaman mereka berproses bersama pasangannya menuju pelaminan. Ada yang penuh liku, banyak drama. Namun ada juga yang begitu simple, sangat lancar jaya, tanpa halangan yang berarti. I am still waiting for my own version.

Kembali tentang Gal Gadot, dari hasil searching di Google, ternyata Gal lagi hamil 4 atau 5 bulan ketika syuting film ini. What? Aku ga bisa membayangkan.

Body-nya padat berisi tidak tampak seperti hamil. Dua bulan setelah melahirkan, body-nya dah balik langsing lagi. Pasti banyak wanita yang iri dengan kenyataan ini, heheh.. Keren banget pokoknya.

Ketika aku menulis ini (di buku), tayangan World News di channel Metro TV juga sedang membahas film Wonder Woman yang jadi box office. Juga ada disebutkan film lain yaitu The Book Of Henry. Hmm.. sepertinya recommended untuk ditonton. Semoga tayang di bioskop Indonesia.

Akhirnya kantuk ku datang. Mari istrahat.

(Pukul 01.08 wib)

buku

Berburu Buku

Bulan Mei merupakan bulan baca nasional dan secara kebetulan di bulan ini aku banyak berurusan dengan buku. Dimulai dengan ‘detox’ buku dari lemari dan kardus.

Sejak beberapa bulan yang lalu aku berniat untuk mendonasikan buku ke perpustakaan kampus WBI dan Yayasan Alusi Tao Toba. Hambatannya cuma satu: aku malas banget bongkar-bongkar kardus. Puji Tuhan, di bulan ini aku ‘berhasil’ membuang mood malas untuk beberapa jam, sehingga bisa bongkar-bongkar dan hampir 40 buah buku telah diberikan ke perpustakaan kampus WBI. Moment bongkar-bongkar membuat aku sadar kalau kardus-kardus  buku itu tidak pernah berpindah temapat selama lebih dari 2 tahun ini.

Masih ada banyak buku yang bisa aku sumbangkan. Namun, ada juga buku yang belum rela untuk aku berikan. Misal novel terjemahan karya Paulo Coelho (ada sekitar 10 buku). Meskipun aku tahu novel-novel itu kemungkinan besar tidak akan aku baca lagi, hehehe..  Sabar ya Alusi Tao Toba. Segera ketika mood malasku off, buku-buku itu akan segera berpindah tempat.

Di awal bulan ini, ketika lagi berada di Plaza Medan Fair, tetiba pengen beli buku obral di Gramedia. Dapat 3 buah novel yang terbit lebih dari 5 tahun yang lalu. Harganya cuma Rp20.000,- per novel. Murah ya.

Novel yang dibeli di awal bulan

Pertengahan Mei mendapat oinfo kalau ada promo diskon 30% semua buku di seluruh Gramedia bila membayar dengan menggunakan kartu kredit atau kartu debit BNI. Ini promo yang sangat menarik mengingat harga buku sekarang cukup mahal, menurutku. Misal novel terjemahan yang terbit tahun ini minimal harganya Rp100.000,-. Jadi lumayan banget kan kalau bisa dapat diskon 30%.

Aku nggak punya kartu apapun berlogo BNI, but lucky me, temanku Aga punya dan dia mau kartunya ditebengi. Aku googling mencari tahu buku bermutu apa yang layak dibeli, dan pilihan jatuh kepada buku seri (tetralogi) karangan Pramoedya Ananta Tour. Aga mendukung hasil googling-ku karena dia sudah selesai membaca seluruh buku tetralogi itu. Semangat mencari, namun sayangnya buku pertama (Bumi Manusia) dari seri tetralogi ini habis stoknya di Gramedia Sun Plaza. Kata Aga, sebaiknya membaca dari buku yang pertama biar nyambung. Agak sedih, tapi mungkin akan berjodoh dengan Tetralogi ini di promo Gramedia berikutnya.

Malam itu perburuan buku dengan kartu BNI membuatku membawa pulang 4 buah novel (lagi) dengan biaya total sekitar Rp250.000,-. Senang hatiku bisa membaui ‘aroma buku’ di toko buku ini. Meski juga merasa agak aneh toko buku ini terasa sepi dari pengunjung. Padahal beberapa tahun yang lalu ketika masih tinggal di Jakarta, kalau ada promo diskon seperti ini, toko Gramedia pasti disesaki orang. Menurut Aga, mungkin karena bukan saat akhir pekan. Menurutku, mungkin memang minat membaca buku turun drastis dan tergantikan oleh media sosial atau pun media elektronik.

Buku yang dibeli saat promo

Esok harinya setelah perburuan buku di toko Gramedia, aku masih penasaran dengan buku ‘Bumi Manusia’ Pramodya itu. Kebetulan hari itu jadwalku belanja di Pusat Pasar, maka aku sempatkan mampir ke Gramedia Medan Mall. Kaget aku karena tidak menemukan Gramedia di sana. Ternyata sudah tutup dari Desember 2016. Beuh, kok aku ketinggalan info ini ya?

Aku melihat ada toko buku yang lain yang buka di sebelah toko ex Gramedia. Info diskon besar-besaran yang tampak dari luar menarik aku untuk masuk ke dalam toko. Okay, buku-buku yang diobral itu ya buku-buku lama. Banyak yang sampul plastiknya tampak berdebu ataupun kertasnya menguning.

Aku menemukan buku ‘Bumi Manusia’ di toko ini dan harganya miring benar, cuma Rp40.000,-. Ini membuatku ragu akan keaslian buku ini, jangan-jangan cuma fotokopi yang tidak memberikan royalti kepada penulisnya. Jadi, aku tunda lagi membeli buku ‘Bumi Manusia’ ini. Niat ga sih sebenarnya, Nde? Banyak kali alasannya 😀

Pantang rasanya keluar dari toko buku tanpa buku, hehehe.. Dari toko ini (aku lupa nama tokonya) aku membeli 3 buah buku dan harga yang harus kubayar hanya Rp100.000,-. Murah kata Aga. Muraaaah banget menurutku karena buku-buku itu ga jadul-jadul amat tahun terbitnya 😀

Buku murah lainnya

Bila disimpulkan maka di bulan baca nasional 2017 ini aku mengirimkan ke luar sekitar 40 buku dan memasukkan 10 buku baru. Dari 10 buku tersebut sudah selesai dibaca 3 buku. Ada 7 lagi plus belasan buku lainnya yang sudah lama dibeli namun belum selesai dibaca.

Mengingat masih banyak koleksi buku yang kumiliki tapi belum dibaca dan masih terbuka kemungkinan membeli buku-buku lagi, sepertinya ide yang bagus kalau aku inventaris  lagi buku yang aku punya, buat page-nya di blog ini dan di-update semampunya.

Mari membaca!

hari-hari

Shopping Time

When Saturday comes, it means shopping time!!

Kayaknya seru banget ya kalo tiap Sabtu bisa shopping, hehheh.. well, belanja ala gw di hari Sabtu adalah belanja barang dagangan di Pusat Pasar (PP a.k.a Sambu atau Sentral) 😀

Hari ini (13 Mei 2017) agak rekor juga jumlah toko yang gw datangi: 12 toko! Sebenarnya ada 5 toko lain yang gw datangi karena nyari meja khusus untuk menyetrika. Jadi total jendral 17 toko. Pantes rasanya kaki gw gempor.

Menjelang tengah hari gw nyampe di PP, untung ga pake mutar-mutar lama untuk dapat tempat parkir. Sekitar jam 3 sore gw selesai transaksi di PP, lanjut ke daerah Jl. Cirebon untuk beli barang-barang aksesoris. Cuma transaksi di 3 toko, tapi ga terasa hampir 3 jam juga gw berada di kawasan ini. Jam 6 sore baru gw selesai belanja, itu pun karena toko yang gw incar sudah tutup, hihihi.. Untung masih sempat beli mie pecal sayur plus sate jengki 3 tusuk sebagai late lunch yang gw makan sepanjang perjalanan pulang. Loh, kan nyetir, gimana bisa makan? Tenang.. gw baru ngunyah pas lagi berhenti di lampu merah kok, hehehe…

Sampai toko sekitar jam 7 malam, badan kayak rontok rasanya. Pantas aja lah ya, dari jam 11 siang sampai 6 malam asik keluar masuk toko aja gw. Tapi hati senang kok, apalagi kalo Sabtu depan belanja barang yang sama lagi, itu artinya barang belanjaan gw laku terjual 🙂

Mau keliling PP dengan gw Sabtu depan? Gw traktir sate jengki deh 😉

hari-hari

Melewatkan Kesempatan

Hari ini aku makan siang terlambat, hampir jam 4 sore ketika aku tiba di warung makan langganan, warung Soendari.  Aku pesan nasi + ayam goreng (ku suka dengan sambal pedas warung ini) dan segelas teh manis dingin. 

Di tengah asiknya menikmati menu sembari tangan kiri sibuk pencet-pencet tombol hp, datang seorang pria (mungkin umurnya sekitar 25 tahun) menawarkan barang dagangan yang lagi ditentengnya, yaitu lemari plastik gantung yang bisa dipakai untuk menyimpan sepatu atau kosmetik. Secara cepat aku menggeleng untuk menolak barang dagangannya itu. 

Lalu pria ini berkata ‘dari tadi pagi belum ada laku daganganku ini kak.. haus aku. Boleh aku minta teh manis kak?’. Minta maksudnya dibelikan teh manis. 

Cuaca di Medan hari ini memang panas banget, wajar kalau dia kehausan. Tampilan pria ini ga ada yang mencurigakan, tas ransel yang dibawanya tampak seperti banyak isinya. Dia melepaskan jaket yang dipakainya, dan duduk di sudut depan paling kiri , diagonal 2 meja dari tempat aku duduk. 

Aku panggil kakak penjaga warung, minta dibuatkan satu lagi teh manis dingin untuk pria ini. Lalu aku tanyakan kepada pria ini: ‘mau sekalian makan ga?’. Pasti dia lapar kalo belum makan siang. Dijawabnya ‘jangan kak, nanti kakak terlalu rugi..’.

Aku tidak memaksakan dan juga tidak bilang kalo sebenarnya aku ingin membayar makanannya kalo memang dia mau makan. Dalam hati aku berniat ntar pas bayar akan minta ke mbak warung untuk menyediakan makan bagi pria ini.

Aku tidak berusaha untuk membuka obrolan dengan pria ini, padahal aku juga udah tidak terlalu konsen dengan hp ku. Ketikan minumannya datang, tidak langsung diminumnya. Dia melihat ke aku seakan minta ijin untuk minum. Aku bilang ‘silahkan diminum teh nya..’. 

Ga hitungan lama segelas es teh manis itu berpindah tempat. Lalu, pria ini seperti akan bersiap-siap untuk pergi. Sekali lagi aku tanya: ‘yakin ga mau makan dulu?’ Dia menggeleng, bilang ‘saya ga selera makan kak, karena belum ada laku barang dagangan ku ini. Nanti kalo sudah laku, baru saya makan. Terima kasih ya, kak’. Dan dia pun ke luar dari warung makan.

Aku juga sudah selesai makan. Aku merasa seperti melewatkan kesempatan untuk menolong pria ini. Sempat terpikir kenapa ga kubeli aja lemari gantung itu? Aku ada bawa uang 75rb di kantong. Tapi aku memang ga memerlukan lemari plastik ini. Hatiku bertanya lagi, kenapa tadi tidak kau ‘paksakan’ saja dia untuk makan? Aku tidak tahu, tadi itu aku tidak merasa harus memaksanya untuk memesan makanan.

Pun begitu, pria ini seakan menunjukkan bahwa dia masih punya harga diri ketika menolak tawaranku untuk makan. Dia hanya meminta apa yang dia butuhkan saat itu (segelas teh manis dingin di tengah udara yang sangat panas, dan mungkin ini pun karena sudah terpaksa banget) dan tidak mengambil tawaran seporsi menu makan siang yang bisa dinikmatinya gratis. 

Aku jadi sedih dan malu. Sepertinya aku kurang peka. Sepertinya aku melewatkan kesempatan yang sering aku minta dalam doa: ‘.. jadikan aku saluran berkatMu, ya Tuhan’.

enlightened

Bahagia ini siapa yang punya? :)

Tulisan ke-2 di tahun 2017. Makin tak produktif aja aku ini. Tulisan pertama di bulan Januari, tulisan kedua di bulan April. Bagooos!

Kemaren lihat foto terbaru teman di Facebook. Foto ulang tahunnya. Moment ultah-nya akan selalu menjadi reminder ‘anniversary’ blog-ku ini. Yes, my first posting in this blog was about his birthday 🙂

Pengen banget aktif menulis lagi, rajin travelling lagi, melakukan dua hal ini biasanya bisa memberi rasa bahagia di hatiku, di samping hal-hal lain yang juga memberikan rasa kebahagiaan yang sama ya.. Kalau aku pikir/renungkan lagi, apa ya yang bisa membuat hidup ini terasa bahagia, layak untuk dinikmati? Keluarga, pasangan hidup, teman/sahabat yang baik, penghasilan yang berlimpah, berat badan yang ideal, pengenalan seumur hidup tentang Tuhan, travelling, dst.. Mungkin bisa jadi tak terhitung.

Dengan semua hal-hal yang sampai tak terhitung itu dan aku tetap merasa tak bahagia? Jangan-jangan yang kulakukan selama ini hanya menjadi rutinitas yang aku tidak tahu ujungnya/akhirnya seperti apa. Well, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Tapi, sepertinya aku pun sudah lupa untuk merencanakan hal-hal yang ingin aku lakukan untuk mengisi dan merayakan kehidupan ini.

Membaca dan melihat status, foto atau pun video yang di-share orang di media sosial, menimbulkan banyak hal dalam hati: bisa bahagia, sedih, iri, bersyukur, inspirasi. Bukankah ini membuktikan bahwa ada banyak hal yang bisa direncanakan dalam hidup ini? Meskipun akhirnya daftarnya jadi terlalu panjang sehingga tidak tahu mana yang jadi prioritas ataupun tidak bisa lagi membedakan (malas untuk membedakan, tepatnya) mana kebutuhan ataupun keinginan.

Kebahagiaan itu hanya kita sendiri yang bisa merasakan, dan hati kita yang paling tahu apa benar kita bahagia atau pura-pura berbahagia. Hanya kita sendiri yang menciptakan kebahagiaan itu, bukan orang lain. So, kalau lagi merasa tidak berbahagia, jangan menyalahkan orang lain 🙂

 

enlightened · kisah

Hello 2017

Hello 2017.

I am so blessed. Sepuluh hari terakhir di tahun 2016 aku habiskan di Holyland, kesempatan dan pengalaman berharga yang Tuhan berikan untukku.

Aku memasuki tahun 2017 di dalam pesawat yang mendarat pas jam 00.00 di Kuala Lumpur International Airport, bagian dari perjalanan kembali ke Indonesia dari Holyland. So, ga ada donk ibadah tutup/buka tahun yang aku ikuti. But amazingly, aku mendapatkan ayat Alkitab pertama tahun 2017 justru dari film Korea yang ditonton kak Farida Ariani di pesawat, teman seperjalanan ke Holyland. Ada satu ayat alkitab yang disampaikan di scene terakhir film tersebut. Bayangkan, ayat Alkitab dari film Korea 😀

Yohanes 16:33 (Yesus berkata) “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Tanggal 3 Januari 2017 keluarga besar Sembiring Brahmana (keluarga mamak) berkumpul di rumah Gia, walaupun tuan rumah sebenarnya Bi Uda, acara rutin di setiap awal tahun. Semula direncanakan acara ini akan diadakan sambil rekreasi ke daerah Silalahi, namun karena banyak keluarga yang lagi mengalami masa duka (mertua meninggal, ada yang baru selesai operasi, paman masih sakit, dll) akhirnya diadakan di rumah Gia saja.

Dalam acara ini diadakan kebaktian sederhana dan Pdm. Kiprus membagikan Firman Tuhan yang cukup mudah untuk dipahami.

Apa yang menunjukkan bahwa kamu adalah anak Allah?

I Yohanes 4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi ,  sebab kasih itu berasal dari Allah ; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Yohanes 13:34 Aku memberikan perintah baru  kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 13:35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Kasih adalah ciri utama dari Yesus Kristus, dan begitu juga seharusnya aku sebagai pengikutNya. Kasih itu tanda pengenalku sebagai anak Allah dan juga tanda pengenalku sebagai muridNya.

Kasih itu terdengar indah, namun sering perlu pengorbanan untuk melakukannya. Tetap harus mengasihi dalam keadaan tersulit sekalipun, kepada orang asing yang belum dikenal bahkan kepada orang yang mungkin menyakiti kita. Mengasihi adalah perintah dari Yesus Kristus, bukan himbauan, jadi mengasihi adalah satu kewajiban yang harus aku lakukan bila mengaku diriku sebagai muridNya.

Sebagaimana Tuhan tidak akan membiarkanku dicobai melampaui batas kekuatanku, DIA pasti juga memampukanku menjalankan perintahNya ini dengan sempurna.

Selamat Tahun Baru 2017. KasihNya menguatkan selalu.

@ Jerusalem
@ Jerusalem