Belum 30 Menit

Standard

27.Apr.2016 makan siang bersama teman kantor di warung joker, sesuai rekomendasiku. Rencananya tadi hanya berdua dan menggunakan mobilku, tapi karena yang ikut jadi 6 orang, akhirnya menggunakan mobil teman yang lain.

Menu yang kami pesan bervariasi sesuai dengan selera masing-masing, ada tom yam, sop ayam, sop daging, capcay, soto daging. Untuk minuman cuma aku yang pesan sirup kurnia (ga bergizi banget!!), yang lainnya semua pesan jus.

Rasa makanannya cukup enak, dibuktikan dengan tak ada makanan yang tersisa *lapaar*.

Saatnya meminta bill, dengan hitungan dan gerakan cepat, semua orang memberi masing-masing 50rb rupiah. Ternyata total tagihannya hampir 320rb. Teman yang mobilnya kami pake, menyerahkan 50rb untuk tambahan pembayaran.

Uang kembalian aku terima, lalu kami masuk mobil untuk kembali ke kampus. Dalam mobil, aku hitung-hitung di dalam kepala. Total bagianku hanya 35rb, jadi seharusnya aku masih ada lebih 15rb. Lalu kurang 20rb yang dibayar oleh temanku itu sapa yang harus nanggung ya? Kalo temanku itu juga, bisa bete juga dia, dah mobilnya dipake, dia pula yang harus bayar lebih banyak. Kalo dibagi rata ke semua peserta, males banget nagih beberapa ribu perak ke teman-teman. Sudahlah, gapapa aku bayar lebih 35rb, jarang-jarang juga berada dalam keadaan ‘terpaksa’ seperti ini, hehehe…

Sampai di kampus, aku datang ke ruangan temanku dan mengembalikan uang 50rb nya tadi.

Kembali ke meja kerja, buka gadget dan melihat ada email dari gojek yang bilang aku dapat voucher 100rb yang akan ditambahkan ke balance go-pay ku, yang bisa dipakai untuk membayar ongkos ojek, pesanan makanan, beli barang, dll. What a surprise.

image

Aku jalankan semua prosedurnya, and yess balance go-pay ku bertambah 100rb.

Belum juga 30 menit dari sejak aku merelakan uangku senilai 35rb untuk tambahan bayar makan, ehhh sudah langsung dapat gantinya 100rb. Untung 65rb.

Hehehe..

Dandan Dulu

Standard

Semalam pas makan malam, temanku (sebut saja A, perempuan) cerita kalo beberapa waktu yang lalu dia sempat ‘marah-marah’ di salah satu bank BUMN di kotanya. Ceritanya A datang ke bank tersebut untuk menyetorkan uang sebesar 45 juta rupiah ke rekening ayahnya. Berhubung ayah A merupakan nasabah lama bank tersebut dan si A juga dah sering menyetorkan uang ke bank tersebut, jadi saat itu si A menyetor tanpa membawa buku tabungan.

Uang setoran dihitung oleh seorang Teller Wanita (TW),  disaksikan oleh A dan jumlahnya pas 45 juta rupiah. Selesai transaksi, A diberikan slip bukti setor dengan jumlah 45 juta rupiah. Setelah itu A pulang ke rumah.

Ketika tiba di rumah, ayah A bilang ada sms e-banking yang menyatakan ada penyetoran sebesar 35 juta rupiah. Ayah A bertanya mengapa yang disetor cuma 35 juta. A heran kok bisa jadi 35 juta. A tunjukkan ke ayahnya slip setoran yang jelas-jelas menunjukkan jumlah setoran 45 juta.

Segera A balik lagi ke bank, kali ini dengan membawa buku tabungan. Sampai di bank, A ke TW yang sama dan minta buku tabungan tersebut di-print. Dalam buku tabungan tersebut tercatat penyetoran sebesar 35 juta rupiah. Waa… mulai lah A mempertanyakan kok bisa berbeda jumlah di slip setoran dengan di buku tabungan.

TW berkilah jumlah yang disetor memang cuma 35 juta karena tadi si A sudah mengambil lagi 10 juta. A tentu saja ga terima dan dia lihat ada CCTV di ruangan tersebut. A minta rekaman CCTV diputar untuk membuktikan apakah memang benar dia ada mengambil kembali uang 10 juta. TW mengajak si A ke lantai atas karena ruang CCTV ada di sana. Tiba di lantai atas, TW bilang kalo CCTV bank tersebut sebenarnya lagi rusak.

A lalu minta dipertemukan dengan kepala unit bank tersebut. TW bilang kepala bank nya lagi tidak ada di tempat. A langsung ngomong  keras-keras (teriak kali yaaa…) ‘wahhh… gimana sih bank sebesar ini kepala unit nya bisa ga ada di tempat, jalan-jalan melulu..’. Kerasnya omongan si A ini sampai terdengar oleh dua satpam dan juga kepala unit bank tersebut yang sebenarnya ada di kantor.

A akhirnya ketemu dengan kepala unit dan A langsung cerita apa yang terjadi. Rekaman CCTV diputar (yang ternyata ga rusak) dan terbukti tidak pernah A mengambil kembali uang 10 juta. Kepala unit bank tersebut berkali-kali minta maaf pada A, bahkan sampai minta ampun. Bagaimana dengan nasib TW? A dah ga terlalu peduli, mungkin dipecat kata A.

Kok bisa ya slip setoran bisa keluar senilai 45 juta tapi di buku tabungan cuma 35 juta? Apakah ada slip setoran sementara? Kemudian, apakah karena tampilan A ketika datang menyetor agak gembel (istilah A untuk tampilan pakai celana pendek selutut, sandal jepit, ga pake bedak, bawa sepeda motor biasa) sehingga si TW merasa A seperti orang yang bisa dibodoh-bodohi?

Pelajarannya adalah:

  • Usahakan membawa buku tabungan setiap melakukan transaksi di teller. Pastikan jumlah di slip setoran/penarikan/transaksi lainnya sama dengan di buku tabungan.
  • Bila lupa membawa buku tabungan, jangan langsung membuang slip setoran/penarikan tersebut. Baru dibuang bila sudah confirm nilainya sama dengan di buku tabungan (bisa cek via ATM atau print buku tabungan di keesokan hari-nya)
  • Mengaplikasikan e-banking (opsional)
  • Dandan dulu sebelum datang ke bank:)

(Nyaris) Kena Tilang

Standard

04.Feb.2016 Hari itu aku berjadwal belanja barang –barang dagangan ke Pusat Pasar. Hampir jam 10 pagi aku sudah parkir manis di dalam Pusat Pasar. Tiga jam kemudian aku keluar dari Pusat Pasar, mengarahkan mobilku ke Jl. Pandan melalui Jl. Sutomo.

Dari jauh aku melihat perempatan Medan Mall cukup ramai. Dengan tenang aku melewati perempatan itu dan kemudian melihat seorang Bapak polisi (Bapol) dengan masker penutup hidung di tengah jalan memberi gerakan untuk menepi. Aku yang merasa tidak melakukan pelanggaran apa-apa, mengarahkan jari telunjukku ke diriku sendiri seakan bertanya apakah perintah menepi itu ditujukan kepadaku, dan Bapol itu mengangguk. Apa lagi ini?

Kutepikan mobil ke sebelah kiri (sebelum Jl. Bawean). Kubuka jendela, Bapol mengucapkan salam dan menanyakan dokumen (SIM & STNK) apakah ada. Aku bilang ada, menyerahkannya kepada Bapol ketika diminta. Bapol memastikan STNK sesuai dengan nomor polisi mobilku. Aku pikir ini hanya pemeriksaan biasa, jadi seharusnya aku sudah bisa jalan lagi. Lalu Bapol ngomong ‘bisa Ibu turun? Saya mau jelaskan apa kesalahan Ibu’. Lalu, Bapol langsung menyeberang menuju pos polisi yang ada di situ, meninggalkan aku yang kebingungan dengan apa yang terjadi.

Dengan perasaan kesal aku matikan mesin lalu keluar mobil menyusul Bapol ke Pos Polisi. Tas, dompet dan HP sengaja aku tinggalkan di mobil. Di dalam pos polisi sudah ada satu pasangan yang sepertinya dihentikan juga oleh polisi lain dan tampaknya urusan mereka sudah selesai dengan cara damai.

Aku dipersilahkan duduk dan Bapol bermasker tadi mengatakan pelanggaranku adalah menerobos lampu merah. Respon pertamaku adalah ‘haaahh’?. Aku bilang lampu lalu lintas masih hijau ketika aku melintas. Muka ku dah ketat aja. Bapol nya keukeuh kalau aku menerobos lampu merah. Dia buka tirai jendela ruangan dan menunjukkan kepadaku mengapa aku dianggap menerobos lampu merah.

Aku juga tetap keukeuh bahwa saat aku melintas lampu lalu lintas masih hijau. Kami juga sama-sama menyaksikan bahwa mobil yang ditunjuknya menerobos lampu merah (saat menunjukkan kesalahanku) tidak dihentikan oleh petugas polisi. Bapol itu akhirnya bilang ‘tilang saja ya Bu’.. Bapol yang lain yang ada dalam ruangan itu juga menyemangati untuk ditilang sebelum dia keluar untuk merokok.

Ampun dahhh… kejadian deh ditilang polisi. Aku mencoba mengingat-ingat kertas tilang warna apa yang harus aku minta kalau pengemudi tidak merasa melakukan pelanggaran lalu lintas. Warna merah atau biru ya? Buku tilang yang sudah diisi Bapol tersebut berwarna merah. Denda maksimum nya 500 ribu rupiah. Bapol menanyakan dokumen apa yang akan ditahan, SIM atau STNK. Aku jawab STNK aja. Muka ku rasanya makin ketat saja dan pengen nangis😦

Bapol tersebut berkali-kali mencoba menggiring aku untuk ‘berdamai’ tapi aku cuekin. Ga rela rasanya memberikan uang untuk menebus suatu pelanggaran yang tidak dilakukan. Aku tetap ngotot tidak bersalah. Sudah lebih dari 20 menit berlalu sampai si Bapol kesal dan akhirnya menyodorkan buku tilang untuk aku tandatangani.

Dia membuka maskernya dan menyalakan rokok nya. Aku reflek mengibas-ngibaskan tangan ketika asap rokok itu lewat depan mukaku. Makin kesal aku. Buku tilang itu aku bolak-balik, membaca apa yang tertera di dalamnya. Bapol bermasker makin bete lihat gayaku. Dia tanya mau cari apa Bu? Aku jawab ‘saya mau cari pernyataan bahwa saya tidak mengakui pelanggaran karena merasa tidak bersalah’. Lalu aku minta ijin sebentar ke mobil untuk mengambil HP. Dia tanya lagi mau telepon siapa? Aku jawab mau telepon siapa saja, mau tanya apa yang sebaiknya saya lakukan dalam kondisi seperti ini. Tiba-tiba Bapol mengambil STNK dan SIM ku yang terletak di meja dan menyerahkannya kepadaku, sambil bilang dengan agak keras ‘sudah Bu, ambil ini STNK dan SIM nya. Lain kali jangan menerobos lampu merah lagi ya..’.

Sedikit kaget dengan tindakan Bapol itu, aku menerima kedua surat itu. Lalu aku bertanya siapa nama Bapol tersebut (nama di seragamnya agak tertutup sehingga tidak terbaca). Dengan curiga dia bertanya untuk apa. Aku jawab ingin mengucapkan terima kasih. Dia menyebutkan satu marga yang aku tidak yakin itu marganya yang sebenarnya. Sambil berdiri aku bilang ‘terima kasih Pak Si********k’ dan keluar dari pos polisi.

Tanpa berjabat tangan.

Layanan Oke

Standard

12.Des.2015 lagi di Nissan Service Center, Gatsu. Bawa mobil ke sini untuk reguler service. Sebelumnya service dilakukan bulan Juni yang lalu.
Sudah lebih 2 jam, belum selesai juga. Aku sudah minum secangkir kopi 3 in 1 plus satu roti keju kecil yang disajikan gratis di ruang tunggu.
Aku suka dengan layanan ruang tunggu di sini. Tersedia sofa yang nyaman, ada tv layar datar yang cukup besar, kursi pijat yang nyaman, dan makanan minuman ringan. Mau pop mie juga ada, gratis. Menurutku, lumayan bikin nyaman nunggu mobil yang di-service cukup lama.
Tak pernah terbayang dulu, kalo satu hari nanti aku akan datang ke bengkel untuk service kendaraan. Sendiri pula. *mukadatar*

Unfriend

Standard

Mengapa ya manusia bisa sebegitu bencinya dengan orang/oknum/sosok yang tidak pernah dijumpainya, tidak pernah dikenalnya secara pribadi? Hanya karena berita lama yang ditelan bulat-bulat tanpa memeriksa kebenarannya, hanya karena perbedaan keyakinan.

Mengapa ya ada orang yang bisa mengeluarkan kata-kata hinaan tentang Tuhan atau nabi orang lain yang berbeda dengan sosok Tuhan atau nabi yang dia yakini? Padahal dia tidak kenal dengan yang sosok yang dia hina itu. Mungkin benar peribahasa tak kenal maka tak sayang.

Ada beberapa teman di fb ku yang sering bikin komen ‘menyerang’ kaum minoritas di Negara ini atas artikel yang dia baca lalu di-share. Artikel yang di-publish oleh media abal-abal yang memang berniat membesarkan perbedaan keyakinan. Senin lalu, aku begitu kesalnya membaca komen salah satu temanku di fb ini dan berniat meng-unfriend-kannya.

Sebelum aku melaksanakan niatku itu, tiba-tiba pemikiran ini melintas: ‘Daripada kamu misuh-misuh dalam hati terhadap temanmu ini, merasa kesal karena pemikirannya yang begitu sempit, mengapa tidak kau bawa dia di dalam doa mu? Agar pemikirannya diubahkan. Agar dia mengenalKu’

Yang kemudian terjadi adalah aku tidak jadi menghilangkan dia dari pertemanan fb :) justru membawa namanya dalam doaku. Setelah namanya, di hari-hari berikutnya nama-nama lain yang aku tahu tidak menyukai Pribadi yang aku sembah yang aku bawa dalam doa. Semoga keresahan yang mereka rasakan atas pribadi yang mereka hina itu, justru membangkitkan keingintahuan mereka untuk mengenalnya. Dan Dia sudah ada di sana :)

Loveme Tender

Standard

20.Oct.2015 Kelas Perpajakan Lanjutan, pertemuan ketiga. Gw bikin latihan soal penghitungan PPh 21. Gw namakan perusahaannya PT. LOVEME TENDER.

Mahasiswa (M): Lucu ya Bu nama perusahaannya

Gw: hehhe..iya. Itukan dari judul lagu yang terkenal

M: Lagu yang mana Bu? (Beberapa org lgs coba menyanyikan lirik lagu2 yg kekinian itu, ga ada yg pas lahhh..)

Gw: Itu loh.. Penyanyi-nya Elvis Presley

M: *wajah bingung* Sapa tuh Elvis Presley?

Gw: *surprise* ga tau yaa? Emang itu terkenal jaman mama papa kalian.

M: gimana sih lagu nya? Nyanyiin donk Buuuu..

Gw: *senyum garing menolak request mrk*

#Emang beda generasi, gw sudah cukup umur.

Jangan (terlalu) menawar

Standard

Beberapa waktu yang lalu gw membaca satu postingan di fb tentang seorang (yang kayaknya) kaya yang menawar habis-habisan harga ikan hias pada seorang pedagang ikan. Menurut pemilik cerita, minta diskonnya keterlaluan. Inti ceritanya adalah mengapa kebanyakan orang yang secara materi berkecukupan sering banget minta diskon harga ke pedagang-pedagang di pasar, pedagang kaki lima, di tempat-tempat yang sederhana, namun sepertinya legowo membayar sejumlah uang cukup besar untuk secangkir kopi di café dalam mall? Demi sebuah prestise?

Ada lagi gw liat di fb foto pedagang kaki lima yang menjual kemoceng, gembok, dll dan diberi caption ‘jangan terlalu banyak menawar, toh mereka bukan mengemis’.

Hari Sabtu kemaren (26.Sep.2015) gw ke Pajak /Pasar Sore mau belanja sayur, bumbu dan kawan-kawannya. Biasanya Gw sering komen ‘wah mahal..’ atau ‘kok mahal ya..’ untuk harga yang diberikan pedagang, meskipun gw malas nawar dan akhirnya beli juga, heheheh.. Nah kemaren itu gw menahan diri tidak berkomentar ‘mahal ya..’ dan juga tidak menawar karena harganya masih masuk akal.

Di salah satu lapak, gw membeli cukup banyak jenis bahan makanan, salah satunya jeruk nipis (jenip). Si Ibu pedagang bilang 3 buah jenip harganya dua ribu rupiah. Gw memilih 6 buah jenip dan menyerahkan ke Ibu pedagang. Ntah kenapa si Ibu malah menimbang jenip tersebut, lalu bilang ‘kita buat empat ribu aja ya..’ sambil menambahkan satu buah jenip lagi. Jadi gw dapat 7 jenip dengan harga empat ribu. Gw jadi mikir mungkin para pedagang di pasar ini pun hitung-hitungan (kebaikan) juga dengan pembeli yang nggak main tawar, mungkin mereka juga ga berniat ambil lebih banyak margin. Bisa jadi malah mereka lebih banyak ambil untung (karena gusar) dari pembeli cerewet yang minta diskon mulu.

Di Medan ada satu swalayan yang menjadi favorit orang-orang untuk belanja sayur, buah-buahan, dll. Namanya merupakan salah satu kampung pariwisata di Tanah Karo. Favorit karena penataan barangnya baik, bersih, cahaya lampu cukup terang, sejuk karena pake AC, dan harganya kadang lebih murah dibandingkan harga di pasar. Sudah saatnya para pedagang di pasar belajar dan berbenah dalam penataan barang dan harga, agar konsumen tidak makin lari ke modern market.

Pulang dari pasar sore menuju rumah, gw sengaja ambil rute melewati jalan ringroad, mau beli buah yang sekarang lagi trend dijual di mobil pick up yang parkir di pinggir jalan. Gw berhenti di pedagang yang jual nenas madu. Ada yang besar ada yang kecil. Yang besar harganya 12 ribu untuk dua buah dan 10 ribu untuk lima buah nenas yang kecil. Nenas ukuran kecil ini ga mini-mini banget size-nya ya, jadi menurut gw itu harganya murah. Nyaris aja gw komen ‘mahallll..’, tapi untung ga jadi terlontar, hahah.. Gw pengen nawar 10rb untuk dua buah nenas besar karena kalo beli satu buah harganya tetap 6 ribu, tapi gw jadi ingat cerita fb di atas, gak jadi nawar deh.

Saat pedagang nenas dalam proses memilih-milih nenas buat gw (karena gw ga pintar milih buah, jadi minta tolong ibu pedagangnya aja yang pilih), datang sepasang suami istri yang sudah agak sepuh dan menanyakan harga nenas. Si pedagang menjawab dan respon si Bapak pembeli ‘aduh..aduh..mahal sekali’. Hati gw langsung kecut mendengar komen si Bapak (soalnya komen beliau mirip kayak gw). Trus si Bapak pembeli lanjut nanya itu nenas dari mana, manis apa ngga, dan minta kurangi harga. Gw ga tau jadi dikasih diskon apa ngga sama si pedagang, karena gw sudah selesai transaksi dan tidak berminat mendengarkan pembicaraan itu.

Kalo kita bisa ikhlas bayar Rp30.000,- untuk secangkir cappuccino di coffee shop di mall, please jangan ngotot minta diskon harga besar-besaran ama pedagang di pasar, pedagang kaki lima, pedagang keliling. Toh, mereka tidak mengemis.