Enggan Keluar

Ga sadar kalo sudah lama (banget) ga ada posting apapun di blog tercinta ini. Bulan April – Juni 2014 sama sekali ga ada tulisan. Ntah kemana mood menulis ini pergi bertandang. Padahal banyak moment yang bisa diceritakan. Ultah saudara dan ponakan, pemilihan legislatif, piala Dunia Bola, kampanye calon Presiden, operasi katarak mamak, pertemuan PA Wanita Single Nav Medan, biztrip ke Jakarta, panen cabe dan brokoli, berat badan yang bertambah (hahaha…), dll.

Kutorehkan dulu lah satu tulisan ini. Semoga bisa membangunkan mood menulis yang masih enggan keluar dari selimut tidurnya yang nyaman :)

 

-ndepur-

 

 

Dua Tahun

15.Mar.2013 Saat lagi jadi ‘mandor’ toko di Sabtu petang, aku melihat seorang anak perempuan, sepertinya masih duduk di kelas 7 atau 8, masuk ke toko ditemani Bapaknya. Anak ini sepertinya baru saja selesai latihan taekwondo, terlihat dari ‘seragam’ putih agak kotor yang dia kenakan. Sempat aku melayani anak ini sejenak yang sedang mencari peralatan tulis untuk ujian.

Setelah itu dia berkeliling toko bersama Bapaknya, mungkin mencari barang-barang lainnya. Aku bisa merasakan kedekatan Bapak dan anak ini. Aku bisa melihat pancaran bangga di mata Bapaknya terhadap anak perempuannya ini. Aku bisa melihat rasa sayang di mata anaknya ketika mereka mendiskusikan barang yang mau mereka beli.

Aku pernah merasakan apa yang ditunjukkan anak perempuan itu. Rasa kangenku menyeruak pada Bapak yang telah tiada. Aku jadi ingat betapa aku sangat senang mendapatkan Bapak di dalam mobil merah kami sedang menunggu aku keluar dari sekolah di Jl . Cut Meutia itu. Aku tersenyum mengingat berdua sama Bapak naik sudako pergi ke Medan Plaza untuk membeli buku bacaan apa saja yang aku suka. Aku masih sangat ingat pelukan terakhir Bapak untukku sebelum dia pergi 2 hari kemudian.

Jumat kemaren (14 Maret 2014) tepat sudah 2 tahun Bapak dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Hari Minggu kami sekeluarga ziarah ke ‘rumah’ Bapak di bawah rintik hujan yang membuat udara semakin dingin. Mamak kembali menangis dalam doa tapi kali ini lebih kepada ‘kelegaan’ karena sudah bisa move on dari kesedihan ditinggal Bapak.

Miss you always, Bapak.

Love the people

Memuji

Tadi pagi ketika menanti Pak Supir yang akan mengantarkanku ke Bekasi, sebuah email masuk. Dari Opiet, teman PA di Jakarta. Email tersebut dikirimkan ke 6 orang, yaitu orang-orang yang datang PA K2 hari Senin yang lalu. Isinya adalah meminta kami menulis ulang pokok doa kami, karena Opiet tidak menemukan kertas doa yang sudah kami kumpulkan Senin kemarin.

Aku langsung menjawab email itu secara japri ke Opiet. Aku masih ingat jelas pokok doa ku itu, soale cuma satu, hehehe.. Terkirim!

Tak berapa lama kemudian masuk lagi email dari Opiet, isinya seperti ini:

email opietBukan hanya berisi ucapan terima kasih, tetapi Opiet menuliskan hal lain yang kuanggap ‘pujian’ yang membuat aku tersenyum. Sebuah pujian yang membuat perjalanan Jakarta – Bekasi yang macet itu terasa menyenangkan. Memikirkan pujian itu. Menganalisanya. *Beuh.. apa-apaan ini sampai dianalisa segala?*

Selalu menjadi yang tercepat. Hmm.. kebetulan aja saat terima email itu aku lagi dalam keadaan santai, sedang menunggu Pak Supir sehingga bisa langsung membalas email. Mungkin teman yang lain ada yang sudah lebih cepat menjawab, tapi koneksi internet lagi lambat. Mungkin teman yang lain lagi sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa langsung menjawab email. Ada banyak kemungkinan.

Disiplin waktu? Wah.. Opiet ga tau aku sangat bergumul untuk urusan yang satu ini :D

Tapi mungkin Opiet ga mempertimbangkan berbagai hal untuk memberikan pujian itu. Dia menghargai respon cepatku dan menyatakannya.

Sesaat aku lalu merasa tidak berhak mendapatkan pujian itu. Namun, hal lain menggelitik pikiranku..tik tik tik..

Apakah aku sering memberikan pujian kepada orang lain atas perbuatan/pekerjaan mereka?

Ihhh.. ternyata jaaaraaanggg banget. Aku pelit dalam memuji orang lain :( Mungkin memuji dalam hati sering, tapi siapa juga yang dengar kecuali Tuhan? Pujian tulus yang dinyatakan membuat hati yang mendengarnya gembira. Pujian tulus bisa menjadi obat bagi orang lain.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah  mengeringkan tulang (Amsal 17:22)

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,tetapi kepedihan hati mematahkan semangat (Amsal 15:13)

Aku mau belajar dari Opiet bagaimana menghargai orang lain. Thanks Opiet!

Kupikir Hemat

SmoovlatteTadi malam (27.Peb.2014) sepulang dari beli nasi padang as dinner *panteslah badan lo makin bengkak, Ndepur*, iseng aku melangkahkan kaki ke Ind**aret. Saat berkeliling, aku melihat di dalam lemari es pajang ada Nescafe Smoovlatte yaitu kopi latte siap minum dalam kemasan botol. Aku sudah pernah beberapa kali lihat produk ini di toko yang sama di Medan, tapi ngga pernah beli karena menurutku harganya mahal (Rp7.500,- per botol) dibanding dengan produk sejenis seperti Go*dday (Rp4.200 – Rp5.100,- per botol) atau favorit aku sejauh ini Ko*iko 78o (Rp5.000,- s.d Rp6.000,- per botol). Lalu aku membaca promo di situ bahwa belanja dengan menggunakan debit Ma**iri maka harga Smoovlatte menjadi Rp 5.000,- per botol.

Dari pelayan toko aku dapat info minimal belanja dengan debit adalah Rp20.000,-. Langsung hitung cepat, berarti aku bisa beli 4 botol smoovlatte. Hmmm, tapi bagaimana kalo aku ga suka dengan rasanya? Jadi kuputuskan beli 2 botol saja. Berarti harus beli barang lain senilai Rp10.000,- lagi biar bisa bayarnya menggunakan debit. Mau beli buah potong, duilee mahalnya.. Kalo makanan ringan seperti keripik atau kacang, kurang doyan. Lalu aku menemukan promo yang lain. Beli 2 gratis 1 untuk Ta*go Waffle Crunchox 70gr. Harganya Rp 5.000,- per bungkus. Pas donk Rp10.000,- dapat 2 bungkus gratis 1 bungkus. Antri di kasir, bayar dan keluar dari toko dengan senang karena aku merasa telah belanja dengan hemat. Total belanja seharusnya Rp30.000,- namun aku hanya membayar Rp20.000,-, diskon Rp10.000,-. Ini baru hemat.

Benarkah hemat? :)

Apa yang aku alami di atas mungkin juga telah dan akan dialami oleh banyak orang lain. Membeli barang dalam jumlah yang sebenarnya tidak diperlukan. Benarkah aku membutuhkan 2 botol kopi susu dan 3 bungkus waffle? Lebih dalam lagi, benarkah aku membutuhkan produk ini?

Well, untuk smoovlatte mungkin aku perlu beli untuk memuaskan rasa ingin tahu (apalagi sampai tulisan ini dibuat aku tidak pernah menemukan produk ini di toko selain Ind**aret), tapi tak perlu beli 2 botol. Kalau waffle mungkin sama sekali ga perlu aku beli karena itu cuma makanan ringan.

Pintar sekali memang sistem yang dibuat oleh penjual sekarang ini, dibuat semenarik mungkin sehingga kita terpikat (dan terpaksa) untuk membeli ‘kebutuhan’ yang mereka ciptakan bagi pembeli. Seandainya aku tidak terpikat, aku hanya perlu keluar uang sebesar Rp 7.500,- untuk sebotol minuman demi memuaskan rasa ingin tahuku. Jumlah itu bahkan lebih kecil dari jumlah diskon yang aku dapatkan.

Bila dihitung-hitung, program beli 2 gratis 1 itu sama dengan diskon sekitar 33.3%. Misal waffle yang kubeli tadi itu. Dengan Rp10.000,- aku mendapatkan 3 bungkus waffle, itu berarti harganya Rp3.333,- per bungkus, diskon 33% dari harga normal Rp5.000,- per bungkus. Dengan metode ini (beli 2 gratis 1) maka penjual bisa lebih banyak meraih omset karena pembeli harus mengeluarkan uang untuk membeli 3 barang demi mendapatkan diskon 33%.

Untunglah rasa smoovlatte ini enak, namun akan dibeli kalo lagi ada promo aja. Ahhh.. aku memang suka terpikat kalo urusan lidah..

Tahun Investasi

Ketika Piala Dunia (Sepakbola) tahun 2010 usai, saat itu aku bertekad bahwa aku akan berada di Brazil untuk menyaksikan langsung Piala Dunia 2014. Langkah pertama yang aku lakukan untuk mewujudkan impian itu adalah membuat tabungan dalam bentuk reksadana di bulan Juni 2010, dan komit menabung setiap bulannya. Tahun 2013 aku mulai berhenti menyetor ke reksadana karena di tahun tersebut reksadana yang aku pilih itu lebih sering terpuruk nilainya.

Ketika aku memutuskan pindah ke Medan, kakak ku menawarkan aku untuk mengelola mini marketnya. Tawaran itu aku terima karena menurutku ini satu tantangan yang baik untuk menambah pengalaman bekerjaku, lagian masa kontrak ku di kantor akan segera selesai *dan ternyata kontrak ku diperpanjang*.

Tahun 2014 pun tiba. Dalam 4 bulan ke depan perhelatan Piala Dunia akan dimulai. Aku tidak lupa dengan mimpiku 4 tahun yang lalu. Melihat saldo reksadana yang ada sekarang, rasanya cukuplah jumlahnya untuk mewujudkan mimpi itu.

Namun, satu pertanyaan menyeruak dalam pikiran ‘apakah benar aku menginginkan mimpi ini?’. Aku bukan pecinta bola, nama dan wajah pemain sepak bola aja banyak yang ga tahu. Tidak pernah menyesal kalo terlewat nonton siaran pertandingan bola klub terkeren sedunia (terkeren menurut para fans nya yaa…). Tidak mengidolakan satu orang pesepak bola pun. Lebih sering ketiduran daripada menyelesaikan menonton satu pertandingan sepak bola dengan utuh. Tidak ikut milis/fans club bola mana pun. Well, dengan semua alasan di atas, yakinkah aku untuk membelanjakan tabungan reksadana ku untuk menyaksikan sesuatu yang sebenarnya biasa saja menarik minatku?

Inilah yang akhirnya kuputuskan: aku akan menggunakan sebagian besar reksadanaku  tersebut sebagai modal tambahan untuk mini market yang aku kelola. Segera akan aku redeem, terlebih setelah aku menonton film ‘The Wolf of Wall Street’, pesan yang kutangkap adalah orang yang punya surat-surat berharga semacam saham atau reksadana, mereka hanya kaya di atas kertas. Dalam hitungan menit bisa bertambah sangat kaya bahkan jatuh miskin. Surat-surat berharga itu tidak pernah menjadi real money selama belum dicairkan :D

Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan artikel yang sangat bagus tentang berinvestasi dengan dasar Firman Tuhan. Judulnya ‘The Biblical Money Code’ yang ditulis oleh Sean Hyman. Artikel ini tentang pengalaman seorang pendeta yang juga seorang praktisi keuangan, dan bagaimana dia menjadikan Alkitab sebagai pegangannya dalam berinvestasi.

Sangat menarik ketika dia membagikan 3 fundamental investasi-nya sebagai berikut:

‘The Biblical Money Code’ by Sean Hyman

‘The Biblical Money Code’ by Sean Hyman

Untuk penjelasan detail nya sila gugel dengan kata kunci ‘The Biblical Money Code + Sean Hyman’. Pasti akan ketemu juga artikel yang negatif tentang ‘The Biblical Money Code’ ini, sekarang tergantung bagaimana kita menyikapi hal yang disampaikan dalam artikel ini.

Semoga Tuhan memampukan aku berinvestasi sesuai kehendakNya. Amin!

Biztrip

KualaNamu AirportSetelah pindah kerja ke Medan, setiap bulannya pasti ada saja perjalanan dinas (biztrip) ke luar kota, seringnya ke Jakarta. Sejak bandara udara di Medan pindah ke daerah Lubuk Pakam, maka perjalanan dari rumah di Medan ke Bandara Kualanamu cukup jauh, sekitar 1 jam by taxi dengan kondisi jalan yang lengang di pagi hari jam 7 kurang. Kalo lebih siang lagi bisa mencapai 1,5 jam. Itu sebabnya Taksi Bluebird di Medan buat kebijakan mengantar penumpang ke Bandara paling telat 3 jam dari jam terbang. Jadi, misal kita bilang penerbangan jam 08.55 pagi maka order system mereka langsung buat penjemputan paling telat jam 5.55 pagi, ga bisa jam 6 pagi, hehehe..

Pada biztrip bulan lalu, pesawat ku terjadwal terbang jam 11 siang. Jadi jam 8 pagi aku sudah berada di taksi menuju Bandara Kualanamu. Perjalanan sekitar 1 jam 15 menit. Ketika check in diberitahu kalo pesawat yang akan aku tumpangi akan terlambat karena gangguan teknis. Pesawat akhirnya berangkat menjelang jam 1 siang. Mendarat di Jakarta jam 3.30 sore, dan tiba di hotel jam 5 sore lewat. Beuh.. butuh waktu seharian dari Medan untuk sampai ke Jakarta.

Makanya sekarang ini males banget kalo disuruh perjalanan dinas, kayak hari ini, mengingat lamanya waktu yang diperlukan untuk bisa sampai ke suatu tempat, padahal terbangnya cuma 1-3 jam. Tapi kalo bos sudah bertitah, ga bisa ditolak toh?

Semoga Jakarta cerah ceria selama aku berada di Jakarta 10 hari ke depan. Semangat!!

Belajar Memberi

Mana yang lebih gampang untuk dilakukan: memberi saat kekurangan atau memberi saat berkecukupan?

Pertanyaan di atas aku lontarkan pada saat pertemuan PA Wanita Single di rumah kak Beny tanggal 9 February yang lalu. Saat itu kami sedang membahas seorang tokoh wanita di Alkitab yang dikenal dengan sebutan ‘Janda dari Sarfat’ (namanya tidak ada disebutkan dalam Alkitab). Kisah wanita ini adalah dia mau berbagi stok makanan terakhir yang dia punya dengan orang asing (nabi Elia, yang baru dia temui saat itu). Ini yang dipandang sebagai memberi saat (dari) kekurangan.

Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: “Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.”

Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.

Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”

Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”

Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. (I Raja-Raja 17:1-16)

Bagiku, kekurangan atau kelebihan itu sifatnya subjektif. Kurang bagiku, bisa jadi lebih bagi orang lain. Sebaliknya, cukup/lebih bagiku, bagi orang lain bisa jadi kurang. Tidak ada tolok ukur yang pasti. Menjawab pertanyaan yang aku ajukan di atas, aku bilang lebih susah memberi pada saat berkecukupan, bila kita tidak pernah mau belajar memberi saat kekurangan. Ketika kita tetap taat memberi/berbagi saat kekurangan, itu adalah perbuatan iman bahwa Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita. Juga ketika kita tetap ikhlas memberi pada saat berkecukupan, itu perwujudan dari ucapan syukur.

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar (Lukas 16:10).

Menurutku, keciiiiill kemungkinan ada orang yang bisa langsung ikhlas berbagi/menyumbang 10 juta ketika mendapatkan penghasilan 100 juta, apabila ketika berpenghasilan 10 juta dia merasa kuatir kekurangan bila harus menyumbangkan 1 juta. Suka memberi/menolong/berbagi itu adalah karakter yang harus ditempah terus menerus, bukan bawaan dari lahir.

Jadi ingat ucapan Kak Beny bahwa kita sering berdoa meminta agar kita menjadi saluran berkat bagi orang lain, dan sesering itu juga kita lupa bahwa kita sudah diberi cukup untuk bisa berbagi (menjadi saluran berkat) kepada orang lain. Yang diberi itu tidak melulu harus materi seperti uang atau barang, namun bisa juga dalam bentuk waktu atau tenaga.

Mari terus belajar memberi Ndepurba, dan tetap nikmati pengalaman bagaimana Tuhan mencukupi kebutuhanmu. Jehovah Jireh!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.