Trip Lombok 17-20 Mei 2013 – part 4 (end)

19 Mei 2013 Hari ini akan melihat dua air terjun di Lombok Utara.  Tidak seperti kemaren, kami akan berangkat jam 9 pagi dari penginapan, jadi agak sedikit santai.

Rahma duluan turun ke resto untuk sarapan, sementara aku dan Irma menyusul kemudian. Menu sarapan masih sama kayak kemaren. Selesai sarapan, foto-foto sebentar di pinggir pantai.

for blog - transit inn

Jam 9 Mas Aziz dan Mas Sabri tiba menjemput. Perjalanan ke Air Terjun sekitar 3 jam. Di awal perjalanan kami sempat berhenti untuk mengambil foto dengan hamparan pantai sebagai background nya di Malibu Point. Cakep!

for blog - Malibu Point

Hampir jam 11.30 siang kami tiba di tempat tujuan yaitu di desa Senaru. Tempat ini bisa menjadi titik awal pendakian Gunung Rinjani, bisa juga jadi titik akhirnya. Kami parkir di ‘terminal’ yang mengingatkan aku akan terminal di Green Canyon, Pangandaran.

Untuk mencapai air terjun, kami dibantu oleh guide lokal. Mas Aziz ga ikut trekking. Stock cemilan kami bawa serta, lebih tepatnya Pak guide lokal yang membawanya. Jaga-jaga kalo ternyata trekking-nya menguras tenaga. Aku juga sempatkan untuk beli pisang goreng di salah satu warung dekat situ. Beli 5rb dapat 10 buah :D

Tangga dengan 300-an anak-nya sudah menanti kami. Udara cukup sejuk karena banyak pepohonan. Pada hakikatnya kami berjalan di dalam hutan yang masih dalam kawasan Taman Nasional Rinjani :)

for blog - menuju air terjunYang akan didatangi pertama adalah Air Terjun Sendang Gila. Debit airnya cukup deras dan ada juga yang mandi di bawah air terjun ini. Yang unik dari air terjun ini adalah sering muncul ‘pelangi’ yang terbantuk ketika sinar matahari ‘menyentuh’ air tersebut.

for blog - sendang gila

Kami hanya mengambil gambar seadanya di tempat ini dan langsung melanjutkan perjalanan menuju air terjun Tiu Kelep. Secara tak langsung aku sudah mentahbiskan Mas Sabri sebagai photographer ketika menyerahkan kameraku untuk dipegang olehnya.  Kami bertiga sekarang bisa fokus untuk menikmati air terjun, hehehe..

Aku tak menyangka bahwa medan dari Air Terjun Sendang Gila ke Air Terjun Tiu Kelep cukup berat. Naik turun tangga, melewati sungai berbatu yang cukup deras airnya, menapak jalanan yang basah akibat hujan semalam. Kira-kira sekitar 45 menit termasuk acara foto-foto di sepanjang perjalanan, heheheh..

for blog - menuju tiu kelep

Akhirnya sampailah kami di Air terjun Tiu Kelep yang lebih besar dari Sendang Gila. Ada 5 air terjun di sini. Airnya deras banget. Air terjunnya cantik deh. Perjalanan yang melelahkan untuk sampai ke tempat ini hilang sudah.

for blog - tiu kelep 1

Di area kolam di bawah curahan air terjun sudah ada sepasang bule (yang perempuannya pake bikini 2 potong) dan dari jauh guide mereka memotret. Sepertinya mereka mau bikin foto yang kayak di kalender gitu, hihihi… Sebelum ‘terjun’ ke kolam, kami bertiga tentu foto keluarga dulu dengan air terjun Tiu Kelep sebagai latarnya. Aku minta Mas Sabri untuk memastikan sepasang bule itu tidak nongol sebagai background tambahan di foto kami, hahahha…

Untuk bisa sampai ke kolam kita harus jalan dengan hati-hati. Jangan sampai terjatuh karena banyak batu yang bisa membuat kita luka. Air di kolam itu dingin sekali. Katanya air tersebut berasal dari Gunung Rinjani. Aku ga berani sih mandi langsung di bawah air terjunnya, takut di situ ada pusaran air. Ada juga pengunjung yang naik ke tebing untuk merasakan sensasi air terjun tersebut.

for blog - tiu kelep 2

Di sebelah kiri kolam aku melihat ada satu kelompok (sekitar 6 orang dewasa) yang sepertinya melakukan suatu ritual. Bapak tua yang sepertinya pemimpin kelompok, mengikat kepalanya dengan kain putih dan melarungkan sesajen di kolam itu sambil baca doa. Setelah itu anggota yang lain juga masuk ke kolam. Setelah semua anggota selesai masuk kolam, acara mereka pun juga selesai.

Kami bertiga ga lama-lama di kolam. Ga kuat dinginnya. Dari jauh Mas Sabri tetap mengambil foto kami. Pengunjung lain juga makin banyak yang datang. Dengan berbasah-basah ria kami pun kembali ke terminal. Perjalanan kembali ini terasa ringan dan cepat, hehehe.

Sekitar jam 2 siang lebih kami tiba kembali di terminal. Setelah mandi dan ganti pakaian kami pun pulang. Mas Aziz mengambil rute melalui monkey forest di mana sepanjang jalan tersebut banyak monyet di pinggir jalan menanti makanan dari orang-orang yang melewati tempat itu.

Di sepanjang perjalanan pulang setidaknya kami melihat 4 dajal alias dangdut jalanan. Menurut Mas Aziz, dangdut jalanan ini salah satu kebiasaan perayaan pernikahan, di mana rombongan pengantin pria mengantarkan pengantin wanita ke rumah ortu wanita. Kedua pengantin ini berjalan kaki, diikuti oleh teman-teman mereka dan juga para tetangga diiringi musik dan lagu dangdut dengan volume membahana. Arak-arakan inilah yang membuat jalanan macet, karena mereka mengambil separuh badan jalan.

for blog - dajal

Selain macet, menurutku Dajal juga menunjukkan betapa masih erat tali kekeluargaan di antara penduduk Lombok. Rombongan yang turut mengantarkan pengantin ini juga mengenakan pakaian khusus dan perempuannya berias. Mungkin juga sebagai tanda ikut bersukacita dengan kebahagiaan pengantin baru :D

Perut kami keroncongan belum makan siang. Kami pun di bawa ke salah satu rumah makan yang menyediakan nasi balap puyung. Menu kuliner terakhir kami di Lombok. Nasi Balap Puyung terdiri dari nasi putih, ayam suir pedas dan kacang kedelai goreng. Kita bisa minta sayur ataupun ayam goreng sebagai menu tambahan.  Di rumah makan ini, standar rasa pedas ayam suir-nya  dibilang sedang, jadi kalo kita minta pedas akan ditambahi sambal. Setelah aku cicip, pedas sedang menurut orang Lombok, pedas banget menurut aku :(

Nasi Balap puyung. Harga Rp 10rb - 12rb/porsi

Nasi Balap puyung. Harga Rp 10rb – 12rb/porsi

Setelah bersusah payah menghabiskan nasi balap puyung (karena pedas banget), kami pun kembali ke penginapan. Dan seperti biasa kami mampir-mampir dulu di mini market. Hari ini kami mampir ke J-Mart, salah satu mini market yang dimiliki pengusaha lokal Lombok dan cukup banyak cabangnya di kota Lombok. Ternyata di J-Mart ada jual dodol juga seperti yang pernah kami liat di toko oleh-oleh kemaren dan harganya minimal 30% lebih murah. Selain dodol, aku juga beli satu bungkus (100gr) kopi bubuk Lombok.

Jam  9 malam kurang akhirnya kami tiba di penginapan. Langsung menjemur pakaian yang basah, packing sebagian barang, mandi dan istirahat.

——-

20 Mei 2013 Jam 3 pagi alarm sudah berbunyi. Bangun dengan malas-malasan, badan rasanya pegal semua, efek ke air terjun kemaren. Sambil nunggu giliran mandi, ya menuntaskan packing. Jam 5 pagi kurang Mas Aziz sudah menjemput kami. Jalanan sangat  sepi. Melewati pusat kota kami melihat beberapa orang sudah ada yang jogging.

Empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Bandara. Jadwal terbang kami jam 6.50 wita. Setelah check in, dapat seat agak belakang juga, kami langsung masuk ruang tunggu.  Jam 6.30 kami pun dipanggil masuk pesawat. On time!

Liburan usai sudah.

———

Hampir jam 8 pagi ketika kami mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Rahma dan Irma share taksi pulang ke rumah, sementara aku naik Damri menuju kantor. Tas-ku yang berisi pakaian aku titip ke Rahma. Untung aku segera mendapat Damri jurusan Blok M.

Saat lagi nunggu penumpang damri lain naik, ada seorang pria yang bertanya ke Supir turun di mana kalau dia ingin ke daerah Kuningan yang ada kedutaan Belanda. Pak Supir jawab bisa turun di Semanggi setelah itu bisa lanjut naik busway atau kendaraan umum lain. Mendengar jawaban itu, pria tersebut naik dan duduk di belakang tempat dudukku.

Merasa kami sama-sama menuju kawasan Mega Kuningan, aku menawarkan pria itu untuk nanti naik taksi bareng dari Semanggi. Dalam hati, aku ingin menolong pria itu jangan sampai tersesat, toh tempat yang dia mau datangi searah dan aku tahu letaknya.

Ketika hendak turun di Semanggi, pria itu menanyakan apakah tawaran naik taksi bareng masih berlaku. Aku mengiyakan. Kami langsung naik taksi yang kebetulan lagi ngetem di halte Semanggi.

Supir taksi menyarankan untuk mengambil rute Casablanca instead of Semanggi . Aku sih pengennya lewat Semanggi, tapi supirnya bilang macet banget di daerah tersebut. Bukannya Casablanca juga macet parah Pak? Tanyaku. Si Bapak Supir bilang ‘tapi tidak semacet Semanggi’.

Males debat aku akhirnya mengiyakan lewat Casablanca. Pria yang bersamaku tampaknya ga mau ikut campur. Sepanjang perjalanan akhirnya kami ngobrol. Ternyata pria ini mau mengurus visa bekerja ke kedutaan Nigeria, yang aku baru sadar kalo letaknya ada di belakang kedutaan Belanda. Pria ini tadi terbang dari Surabaya. Sepertinya dia sering bekerja sebagai teknisi di luar negeri, yang kadang tidak ada kedutaannya di Indonesia. Kalo kondisinya seperti itu, katanya, dia akan terbang ke Negara terdekat (misal Singapura) untuk mengurus ijin bekerja di Negara tersebut.

Ketika mau putar balik dekat gedung Cyber II, pria ini bilang sebaiknya aku yang duluan diantar. Tentu saja aku menolaknya. Aku merasa bertanggungjawab untuk memastikan pria ini sampai ke Kedutaan Nigeria, karena aku yang pertama mengajaknya naik taksi bareng.

Ketika dia sampai di kedutaan Nigeria, argo taksi menunjukkan angka hampir 20rb. Pria ini mengeluarkan selembar 20rb dan menyerahkannya padaku, yang langsung aku tolak. Aku bilang, ga usah bayar, toh emang kita searah. Tanpa kuduga, pria ini langsung kasih uang tersebut ke Bapak supir dan bilang bahwa aku cukup bayar selisih uang taksi yang masih ada ketika nanti sampai di kantor.  Aku hanya bisa bilang ‘thanks and good luck ya…’.

Ketika taksi akhirnya jalan kembali, supir bertanya pria itu siapa. Aku bilang baru kenal.  Si supir ngoceh terus tentang pria itu, aku ga ingat diomongin apa. Beberapa menit kemudian aku pun tiba di depan kantor, argo taksi menunjukkan angka 25rb rupiah lebih dikit. Aku menyerahkan uang 10rb ke Bapak Supir dan keluar dari taksi.

Dua orang asing ngobrol di Senin pagi. Tanpa pernah menyebut nama.

Trip Lombok 17-20 Mei 2013 – part 3

18 Mei 2013 Rute hari ini ke pantai Pink. Horeee…  Perjalanan akan dimulai cukup pagi jam 7.30 karena butuh waktu minimal 3 jam menuju ke sana. Jam 7 pagi kita dah nunggu di ‘resto’ penginapan untuk sarapan. Pegawai-nya baru datang hampir jam setengah delapan.

Pilihan sarapan untuk makanan: nasi goreng  (sangat sederhana) atau roti bakar dengan selai, dan untuk minuman: teh panas atau kopi hitam (kopi Lombok). Aku dan Rahma kompak pesan nasi goreng, sementara Irma minta roti bakar-nya dibungkus aja.

Mas Aziz ditemani Mas Sabri yang bertugas menyetir hari itu. Kalo perjalanan jauh, biasanya guide-nya ada dua, begitu kata Mas Aziz. Sepanjang perjalanan, Mas Aziz banyak cerita tentang objek yang akan didatangi dan juga tentang pengalaman hidupnya bekerja 11 tahun di kapal pesiar as waiter. Pengalaman hidup yang luar biasa.

Our excellence guide: Mas Aziz & Mas Sabri

Our excellence guide: Mas Aziz & Mas Sabri

Perjalanan ke pantai pink akan dilalui 2 jam jalan darat dan sekitar 1 jam dengan boat. Menurut cerita temanku yang sudah pernah ke sana dan dari blog sebelumnya, jalan darat yang ditempuh cukup berat. Ada jalan sepanjang 13 km yang berliku dan berbatu. Nah, kali ini kami beruntung karena Mas Aziz membawa kami melalui jalan alternative lain yang sangat mulus dan berujung di pelabuhan Tanjung Luar. Pelabuhan ini adalah salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di NTB.

Ketika kami sampai di pelabuhan ini, kami melihat ada ikan hiu yang tertangkap. Kata nelayannya sih dah mati. Baru kali ini aku liat secara langsung ikan hiu. Besar banget euyy..

tanjung luar

Pak Amat yang menjadi boatman hari itu sudah menunggu kami. Setelah barang-barang dinaikkan ke kapal, kami pun siap meng-explore Pantai. Air laut yang biru nan jernih serta pemandangan sekitarnya, ditambah acara foto-foto dari atas kapal membuat perjalanan dengan kapal ini terasa singkat. Persinggahan pertama adalah di gundukan pasir yang menonjol di tengah lautan. Kata Pak Amat, tidak selalu gundukan ini tampak. Keberuntungan berikutnya untuk kami :D

Begitu menginjakkan kaki di gundukan pasir ini, kami hanya bisa bilang ‘amaaaziiiing’. Kami berada di tengah lautannnnn…  Langsung foto-foto narsis. Air jernih dan tak dalam membuat kami ingin segera masuk ke air. Sekitar 500 meter dari gundukan pasir ada sebuah pulau kecil. Kami bertiga menuju pulau itu dengan berenang dan jalan kaki, wkkkwkwk.. Dari jauh Mas Aziz memotret kami. Kami ketemu bintang laut warna merah. Langsung deh si bintang laut jadi objek foto.

gundukan pasir

Asyik berjalan, kami tak sadar kalo Pak Amat mengikuti kami dari belakang sambil bawa kameraku. Beliau berubah jadi tukang foto sekarang. What an excellence service. Sampai di pulau itu, Pak Amat bilang dari semua tamu yang pernah dibawa Mas Aziz, kami adalah peserta pertama yang berjalan sampai ke pulau itu. Ketika melihat jalan yang sudah kami tempuh, capek juga kalo harus kembali lagi ke gundukan pasir. Tapi tiba-tiba, kapal datang menuju kami. Pak Amat tampak terkejut melihat Mas Aziz yang menjalankan kapal itu. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Mas Aziz emang multi talenta, he he he..

Kami pun naik ke kapal untuk menuju Pantai Tangsi yang berpasir warna pink, sehingga pantai tersebut sering disebut Pantai Pink. Kami melewati Gili Petelu, tempat kami akan snorkeling nanti. Dari atas kapal, kami bisa melihat terumbu yang sempurna di bawah air. Aku udah ribut aja bilang pengen terjun ke air, hahaha..  Pak Amat menghentikan laju kapal sejenak untuk membiarkan kami menikmati kejernihan air itu. Selain itu kami juga melihat patok-patok di laut yang menandakan budidaya mutiara ada di situ. Lombok juga terkenal akan mutiara air asinnya.

gili petelu

Dari kejauhan kami bisa lihat beberapa kapal lain sudah tertambat di Pantai Pink. Menurut Mas Aziz, kalo hari minggu pantai Pink itu cukup ramai dengan kedatangan penduduk lokal. Benar, pasir pantai ini berwarna kemerah-merahan. Sepertinya dari terumbu warna merah yang sudah mati. Di Pantai Pink, kami bertiga belajar menggunakan alat snorkeling dan baju pelampung. Setelah foto-foto sejenak dengan alat snorkeling kami langsung naik kapal lagi. Kami malah tidak explore Pantai Pink sama sekali, sudah ga sabar pengen snorkeling aja, hahahah..

pantai pink

Kapal membawa kami kembali ke Gili Petelu. Pak Amat yang akan memandu kami dan turun duluan ke laut. Aku, Irma dan Rahma menyusul kemudian. Benar-benar terumbunya indah benar. Surprise juga lihat Rahma yang belum pernah snorkeling bisa cepat beradaptasi dengan alat snorkeling ini. Meski sempat juga sekali air laut terminum olehnya.

Pak Amat ingin membawa kami mengelilingi gili. Namun, belum juga setengahnya kami sudah kelelahan, hahaha.. Padahal indah banget di bawah situ. Terumbu-nya belum ada yang pecah, ikan berwarna warni, ada bintang laut yang terlihat warna biru (tapi pas dibawa keluar dari air warnanya kok abu-abu, hehhe..), dan pantulan sinar matahari yang sampai ke dasar membuat pemandangan bawah laut semakin indah. Bila mengingat pengalamanku snorkeling di Gili Tarawangan beberapa bulan sebelumnya, bisa dibilang pemandangan di Gili Petelu ini jauhhh lebih indah dari yang di Gili Tarawangan.

Kayaknya kami snorkeling ga sampai 1 jam. Kami pun menepi dan beristirahat di Pantai Petelu. Namun beningnya air pantai membuat kami segera masuk air lagi, hahaha… rasanya seperti pemilik pulau pribadi sendiri karena cuma kami yang ada di situ. Kami menyempatkan sebentar naik ke bukit kecil yang ada di situ. Dari atas terlihat nyata gradasi birunya air membuat aku benar-benar speechless. Lengan dan mukaku mulai menghitam. Tapi cuek aja deh soale hatiku sangat senang. Thanks God for giving me this pleasure. I am sooooo happy.

for blog - snorkel at gili petelu

Puas di Gili Petelu kami pun naik kapal dan menuju Pantai Sebui. Di pantai ini kami akan makan siang. Pasir pantai sehalus  tepung menyambut kami. Saking halusnya sampai susah jalan, hahaha.. Sementara Pak Amat membakar ikan, Mas Aziz dan Mas Sabri menyiapkan peralatan makan dan hidangan makan siang yang sudah disiapkan oleh istri Pak Amat, kami bertiga berlari ke ujung pantai untuk foto-foto dan tentunya berenang lagi.

Pantai Sebui

Pantai Sebui

Dua puluh menit kemudian Mas Aziz memanggil kami untuk makan siang. Tikar sudah digelar di bawah satu pohon yang cukup rindang. Di atas tikar terhidang Ikan bakar, kepiting kuah bumbu kuning, cumi goreng, nasi dan sambal kecap yang assoyy pedasnya. Sungguh makan siang yang sangat nikmat. Kita sempat bercanda, biasanya wanita yang menyiapkan makanan, hari ini malah sebaliknya, para pria yang melayani wanita, hihihi…

lunch

Selesai makan, badan sudah agak kering. Langit juga sudah terlihat mendung. Irma sudah ga mau masuk air lagi, sementara aku dan Rahma masih sempat minta diambilin foto di dalam air. Jam 3 sore kami pun berlalu dari pantai Sebui. Mengambil rute mengelilingi pulau membuat perjalanan pulang kami lebih lama sekitar 15 menit.

Sempat kena hujan di laut. Mas Aziz menunjukkan gundukan pasir yang tadi kami datangi sudah tertutup air. Sudah mulai pasang. Ada kalanya juga ketika surut, dari gundukan pasir ke pulau tersebut air benar-benar hilang. Ga tau deh ilang ke mana, hahaha.. Karena kelelahan, foto-foto narsis pun berhenti.

Jam 4 sore kami pun sampai kembali di pelabuhan Tanjung Luar. Setelah say thanks and goodbye ke Pak Amat, kami pun kembali ke kota Mataram. Dalam perjalanan kami singgah di satu SPBU untuk bilas-bilas dan ganti pakaian. Ternyata baju yang aku saat di pantai tadi koyak di bagian bawah. Aku putuskan untuk ‘membuang’ saja baju itu.

Seperti hari sebelumnya, kami makan malam dulu sebelum kembali ke hotel. Malam ini menunya sate rambige. Menurut Mas Aziz, rumah makan yang akan kami datangi ini sudah puluhan tahun menjual sate Rambige. Meski di sekitar itu ada juga yang jualan sate rambige, tempat ini yang paling laris. Apalagi pas bulan puasa. Bisa antri satu jam.

Sate ini terbuat dari daging sapi yang sudah direndam bumbu khusus semalaman lalu di bakar. Rasa sate ini emang enak dan (lagi-lagi) pedas. Tidak ada sambal kacang atau pun saos. Menurut aku rasanya seperti dendeng basah. Sate juga bisa dimakan dengan lontong ataupun nasi. Satu porsi sate rambige berisi 10 tusuk dibandrol Rp 15.000,-. Selain sate, rumah makan ini juga menyediakan sup iga dan pepes ikan.

Awalnya tidak ada rencana untuk melihat mutiara, namun karena ada teman Rahma yang ingin nitip dibelikan mutiara, jadilah kami dibawa ke Lia’s Pearl, toko yang menjual mutiara asli dan memberikan sertifikat keaslian. Dari rencana hanya ingin melihat-lihat saja, berujung dengan kami bertiga sukses bertransaksi. Aku membeli cincin bermata mutiara air asin yang diikat dengan emas 22 karat *gesek kartu*

Kembali mampir ke mini market untuk membeli persediaan snack dan minuman ringan untuk perjalanan ke air terjun besok hari. Lebih dari jam 10 malam kami tiba di penginapan. Jemur pakaian dan sandal yang basah, mandi lalu tidur.

Happy!

before and after

Trip Lombok 17-20 Mei 2013 – part 2

17 Mei 2013 Ketika dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta, aku mendapat kalo hari itu lagi ada promo 11 tahun starbucks Indonesia berupa diskon 50% untuk semua jenis minuman dengan cara pembayaran apapun. Aku dan Irma ikutan antri di counter starbucks di Bandara after check in. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, walaupun sudah diskon 50% tetap aja harga minuman di SB ini mahal. Apalagi kalo ga diskon ya..

Garuda berangkat tepat waktu jam 11 siang wib. Aku dan Irma dapat seat baris kedua dari belakang. Seluruh seat terisi. Sepertinya ada rombongan gathering dari sebuah kantor. Oh ya, Rahma sudah berangkat terlebih dahulu satu hari sebelumnya.

Perjalanan dari Jakarta ke Lombok memakan waktu 2 jam. Pukul 2 siang waktu Lombok kami mendarat mulus di Bandara Praya. Bandara ini baru beroperasi tahun 2011, menggantikan bandara Selaparang yang ada di dalam kota Mataram. Rahma dan Mas Aziz sudah menunggu kami di pintu keluar kedatangan.

Hujan deras mengguyur siang itu. Kami putuskan untuk ke Pantai Tanjung Aan dulu, tempat yang terjauh. Kami mengganti celana panjang kami terlebih dahulu dengan celana sedengkul di halaman sebuah mushola dekat pantai Kuta.

Mas Aziz mengingatkan kami bahwa di pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan akan banyak pedagang yang menawarkan souvenir seperti kaos, kain ikat tenun, dll. Mas Aziz menyarankan untuk tidak memegang sama sekali barang yang ditawarkan karena kalo udah pegang biasanya kita dipaksa untuk membeli. Bila kita sudah membeli dari satu pedagang, maka pedagang lain akan menyerbu minta kita beli dari mereka. Selain itu, pedagang yang masih anak-anak juga akan bilang untuk tidak usah beli tapi cukup beri mereka uang seribu untuk makan/jajan. Wah…berubah dari pedagang jadi peminta-minta :(

Pantai Tanjung Aan tampak indah di sore itu. Airnya terlihat biru. Mas Aziz juga sangat membantu menjadi photographer ketika kami ingin foto bertiga. Puas deh foto-foto narsis.

Pantai Tanjung Aan

Pantai Tanjung Aan

Puas menikmati Pantai Tanjung Aan, kami menuju Pantai Kuta yang terkenal dengan pasirnya yang seperti merica. Benar-benar kayak merica loh. Di pantai ini ketemu dengan rombongan gathering yang satu pesawat dengan kami tadi, hehehe.. Pantai Kuta juga bagus dengan tepinya yang landai. Saat itu kami tidak melihat ada orang yang berenang di pantai. Oh ya,  apa yang Mas Aziz ceritakan tentang pedagang souvenir di kedua pantai ini benar adanya. Kami bertiga pun patuh untuk tidak memegang barang yang ditawarkan dan tidak member waktu untuk berinterkasi dengan mereka.

pantai Kuta

Tujuan berikutnya adalah Pantai Batu Payung. Mas Aziz bilang itu sekitar 45 menit perjalanan dan ada kemungkinan tiba di sana pantai sudah pasang. Mengingat kami juga ingin berkunjung ke Desa Sade (rumah adat suku Sasak), maka kami putuskan untuk skip ke Pantai Batu Payung. *sedikit menyesal kemudian, karena keesokan harinya lihat foto Pantai Batu Payung yang sangat keren di majalah wisata di lobi penginapan*

Tempat berikutnya yang didatangi adalah Desa Sade. Di tempat ini juga ketemu lagi ama rombongan gathering itu, hahha.. Kami dipandu seorang guide dari desa Sade ini. Di desa ini masih berlaku tradisi kawin culik. Ketika sepasang muda mudi ingin  menikah, maka sang pria harus menculik kekasihnya dari rumahnya dan disembunyikan di rumah kerabat yang lain. Orangtua/keluarga perempuan ga boleh tahu tentang rencana penculikan ini *ya iyalah, namanya juga diculik*. Lucu juga ya tradisinya.

Menurut pemandu, rata-rata pernikahan terjadi antar sepupu/saudara. Alasannya kalo mengambil perempuan dari pihak luar, maharnya satu ekor kerbau. Sangat mahal bagi penduduk desa ini.

Rumah di Desa Sade ini berdinding tepas dan berlantai tanah. Lantai tanah tersebut sering di-pel dengan kotoran kerbau. Rumah hanya terdiri dari dua ruangan. Ruang depan untuk tidur orangtua dan anak laki-laki, sementara ruang belakang untuk dapur dan tempat tidur anak gadis. Setiap rumah yang kami masuki atau Cuma sekedar melongok, kami tidak melihat ada perabotan rumah seperti kursi, meja, tempat tidur, lemari, dll. Pemandu bilang, penduduk tidak sanggup untuk membeli perabotan rumah tersebut. Duh, terus terang aku ga bisa membayangkan bagaimana setiap harinya tinggal di rumah seperti itu.

for blog - desa sade

Mata pencaharian penduduk desa Sade adalah bertani, sementara para perempuannya kebanyakan bertenun. Anak gadis baru boleh menikah bila dia sudah bisa menenun. Penduduk ini mengolah sendiri kapas menjadi benang secara tradisional lalu menenun benang tersebut menjadi kain ikat. Tapi anehnya, banyak kain yang ditawarkan ke pengunjung bukanlah kain tenun tangan, tapi hasil mesin :(

for blog - desa sade2

Merasa cukup berkeliling desa Sade, kamipun beranjak pergi dari sana. Mas Aziz menyarankan kami untuk makan malam dulu baru check in ke penginapan. Ayam Taliwang dan plecing kangkung menjadi pilihan menu makan malam. Aku pesan ayam goreng taliwang pedas, Irma lagi batuk jadi pesannya ayam bakar madu.  Rahma pesan tahu goreng, karena malam sebelumnya dia dah makan Ayam Taliwang dan menurutnya ga begitu enak. Kalo aku sih suka-suka aja.. tapi emang pedas banget itu plecing kangkung. Bahkan ayam bakar madunya aja ada pedasnya, kata Irma.

Selesai makan malam, kami dibawa ke toko oleh-oleh. Irma pengen beli madu Lombok, tapi ga jadi karena harganya terlalu mahal. Kami sempat mencicipi beberapa sample makanan. Aku tidak ada beli apapun di sini. Rahma beli beberapa kotak dodol, sementara Irma beli snack berupa stick rasa kangkung juga nastar ala Lombok.

Mengingat rute hari kedua adalah ke Pantai Pink, Rahma pengen beli topi. Kamipun dibawa ke toko Gandrung yang kayak toko Krisna di Bali, hanya saja lebih kecil dan tidak menjual makanan. Pengen beli tempelan kulkas tapi modelnya biasa banget. Tertarik dengan satu baju tapi ukurannya kecil semua. Lagi-lagi aku ga beli apapun di sini, sementara Rahma membeli satu topi pink dan satu jumpsuit.

Sebelum ke penginapan, kami singgah dulu di Indomart untuk beli cemilan dan minuman ringan untuk perjalanan esok hari. Surprise lihat di Indomart menjual snack stick dengan merk yang sama yang Irma beli tadi di toko oleh-oleh, dan harganya 30% lebih murah. Irma kesal tapi dia bilang at least jenis rasanya beda.

Akhirnya kami menuju penginapan di daerah Senggigi. Nama penginapannya Transit Inn, berada di tepi pantai. Dari dalam kamar kami bisa mendengar suara deburan ombak. Kamarnya lumayan besar dan bersih. Fasilitas: handuk, sabun padat, water heater, AC, TV dan sarapan.

Unpacking, siapin baju untuk trip ke pantai, dan mandi. Akhirnya tidur deh jam 11 malam.

Trip Lombok 17-20 Mei 2013 – part 1

Tanggal 17-20 Mei kemaren aku berkunjung ke Lombok lagi. Ini kedatanganku yang ke-4 kali. Tiga kunjungan pertama adalah terkait pekerjaan, jadi sangat sedikit waktu untuk explore Lombok. Yang terakhir kemaren pure untuk liburan.

kika: irma - rahma - ndepurba

kika: irma – rahma – ndepurba

Peserta trip kali ini aku, Irma dan Rahma (kakak-ku). Kami sudah beli tiket Garuda dari sejak September 2012. Tentu saja tiket promo, dapat harga 890rb pp. Liburan dirancang sendiri ala backpacker. Dari hasil melongok catatan liburan orang-orang yang betebaran di internet, kami sepakat untuk mengunjungi 3 gili terkenal di Lombok sebagai destinasi utama kami. Tiga gili tersebut adalah Gili Tarawangan, Gili Air dan Gili Meno.

Berikut rancangan itinerary yang kami buat plus budgetnya:

Date

Time

Activity

Amount in thousand (IDR)

Remarks

17-May

9:00 AM

Airport Tax Soekarna Hatta

40

10:20 AM

Jakarta – Mataram

445

by Garuda

2:00 PM

Arrive at Praya Airport
Damri to Baleku

25

4:00 PM

Check in at Baleku

100

7:00 PM

Dinner

50

18-May

6:00 AM

Breakfast at Hotel

6:45 AM

Menuju Bangsal

25

8:00 AM

Menuju Gili Tarawangan

25

10:00 AM

Check in at Baleku Tarawanagn

100

11:00 AM

Cycling, Lunch, Swimming/Snorkling

300

4:00 PM

Back to Hotel, bersih2..

5:00 PM

Sunset

7:00 PM

Dinner

100

9:00 PM

Back to Hotel

19-May

5:00 AM

Sunrise (kalo bangun)

7:00 AM

Breakfast at hotel

9:00 AM

Back To Lombok

25

11:00 AM

Sasak Tour

250

plus lunch

4:00 PM

Cari oleh2

7:00 PM

Dinner @ Pantai Senggigi

50

8:00 PM

Back To Hotel

20-May

4:00 AM

Check Out
Taxi to Bandara

75

Airport Tax Praya

40

6:55 AM

Lombok – Jakarta

445

by Garuda
Others

405

Total

2500

Super duper hemat kan?

Namun, aku kepikiran Rahma yang beberapa waktu sebelumnya operasi usus buntu dan menurut dokter dia belum boleh capek.  Berlibur menggunakan transportasi umum itu melelahkan. Berdasar blog seseorang yang ditemukan Irma, aku mencoba kontak guide di Lombok yang ada dalam blog tersebut. Responnya cukup cepat dan biayanya menurut kami cukup hemat. Jadilah akhirnya kami menggunakan tur yang dipandu oleh Mas Aziz dari Tour LombokFriendly dengan penawaran berikut:

ITINERARY           :

  1. DAY  ONE   -  KEDATANGAN + SASAK TOUR ( 17-05-2013 )

Jemput di Bandara  – Desa sade ( Rumah adat sasak ) – Pantai Kuta ( Lunch ) – Pantai Tanjung Aan – Batu Payung  (jika ada waktu )  – ke kota cakranegara  ( Dinner ) – C/I Transit Inn  ( tiba di Hotel  sekitar pkl 21.00 )

  1. DAY  TWO  -  TOUR  3 GILI / SNORKLING   ( 18-05-2013 )

Jemput  di hotel  09.00 – Bukit Malimbu ( Foto2 ) – Pelabuhan  telok kodq – Gili Air ( Lunch ) – Meno – Trawangan  – Pelabuhan telok kodeq – Dinner khas Lombok  – Hotel

  1. DAY  THREE – TOUR  PANTAI  PINK  / TANGSI ( 19-05-2013 )

Jemput di Hotel jam 07.00 – pelabuhan tanjung luar (perjalanan 3 jam one way ) – Foto2 di gundukan pasir yg menonjol di tengah2 lautan – penyebrangan ke pantai pink 1 jam – pantai Sebui  ( Lunch ) – Gili petelu Batu bolong – pel.tanjung luar – kembali ke kota utk Dinner – Hotel

  1. DAY  FOUR  -  KEBERANGKATAN ( 20-05-2013 )

Jemput di hotel  pagi hari  -  searah dengan jalur bandara kita mengunjungi tempat oleh2  khas Lombok seperti  : Baju kaos lombok , Makanan khas Lombok  , Mutiara yg murah meriah jika suka – Bandara .

 Adapun  jarak tempuh dari Hotel ke Bandara  adalah 1,5 jam

 Adapun Harga paket Tour di atas  Rp.1.450.000 / Orang  x 3 Orang = Rp. 4.350.000 ( Total Semua )

Harga paket sudah termasuk :

-                     3 x malam di Guest house Transit Inn with extra Bed ( 1 Room ) + B.fast

-                     Mobil  Avanza + Bensin + Sopir

-                     Uang parkir , tiket masuk obyek wisata

-                     Boat keliling  3 Gili ( Snorkeling+ Masker  ),  di pantai pink dan sekitar nya

Harga paket belum termasuk  :

-                     Tiket pesawat ,  sewa porter di bandara

-                     Makan Siang dan Malam

-                     Laundry  , biaya2  tambahan  dan sumbangan2

Mas Aziz punya prinsip melayani tamu sebaik mungkin dan sangat fleksibel dengan rute. Terbukti, selama trip kami melakukan beberapa perubahan  tanpa tambahan biaya. Hari pertama sesuai dengan itinerary, hari kedua rute berubah menjadi ke pantai pink, dan hari ketiga kami pergi mengunjungi dua air terjun di Lombok Utara. Trip ke 3 Gili tidak jadi kami lakukan, karena snorkeling di gili Petelu (saat trip di hari kedua)  sudah sangat memuaskan dan katanya malah terumbu-nya lebih bagus daripada di Gili Tarawangan.

Pokoknya Mas Aziz dan tour LombokFriendly very highly recommended. Silahkan intip web mereka di: http://www.lombokfriendly.com/

Selesai dari liburan, aku menghitung biaya actual yang kami keluarkan selama liburan ini. Hasilnya cuma selisih kurang dari 400ribu aja, namun kami sudah mendapatkan lebih dari yang kami rencanakan sebelumnya. Detail pengeluaran sebagai berikut:

Month-Year

Date

Description

Amount in thousand (IDR)

Remark

Sep-2012

17

Tiket

                          890

Garuda: JKT – Lombok – JKT
May-2013

17

Transport ke SHIA

                            45

Ojek + Damri
May-2013

17

Airport Tax

                            40

SHIA
May-2013

17

Souvenir

                            10

Desa Sade: Gelang Kerang (3)
May-2013

17

Dinner

                            50

Ayam Taliwang
May-2013

17

Snack

                            34

Indomart: Ragam cemilan dan minuman ringan
May-2013

18

Lunch

                            65

Pantai Sebui: Lunch Fresh Seafood
May-2013

18

Dinner

                            22

Sate Rambige
May-2013

18

Snack

                            28

Indomart: Ragam cemilan dan minuman ringan
May-2013

19

Snack

                              5

Waterfall: Pisang Goreng
May-2013

19

Fruits

                              5

Nenas madu mini
May-2013

19

Dinner

                            15

RM. Cahaya: Nasi Balap Puyung
May-2013

19

Biaya Tour

                      1,450

FriendlyLombok: Biaya Tour 3D3N + tip
May-2013 17-20 Other

185

Donasi + Tip + Oleh-oleh ala kadarnya
May-2013

20

Transport ke Kantor

                            35

Damri + Taxi
Total

                      2,879

Detail dan foto-foto selama trip Lombok ini menyusul di postingan berikut yaaa.. :)

Pengakuan #1

Another thing about me.

Jadi ingat sekali waktu pas perayaan Natal di kantor PSN. Saat itu kami merayakannya sangat sederhana. Tidak banyak orang. Kami berkumpul mengelilingi meja bundar yang cukup besar dalam satu ruangan meeting. Ada sesi di mana pembacaan Alkitab diselingi lagu ‘Mula Pertama’  yang dinyanyikan oleh solois yang diiringi dentingan gitar yang dimainkan oleh teman yang lain. Beberapa hari kemudian, Mbak Niyta, yang hadir dalam acara Natal tersebut cerita ke teman lain kalo dia merinding ketika mendengar lagu Mula Pertama itu dinyanyikan. Suara Solois-nya bagus banget, gitu kata Mbak Niyta.

Solois itu adalah aku ^_^

Rata-rata teman yang pernah dengar aku nyanyi (di karaoke) bilang kalau aku punya suara yang bagus. Namun, jangan suruh aku untuk ikutan ajang kontes menyanyi. Pasti akan aku tolak. Alasannya bermacam-macam ‘maap ya.. gw takut kalo ternyata ada produser musik pas acara itu’, atau ‘gw kalo di depan khalayak banyak bisanya cuma nyanyi lagu rohani’, hehehhe.. Padahal alasan sebenarnya adalah: aku orangnya ga pedean, tidak suka menjadi pusat perhatian dan satu lagi: aku itu ga lancar baca not lagu, baik bentuk solmisasi apalagi not balok :(

Bukan berarti aku ga pernah ikut kontes adu suara. Pernah satu kali ketika masih SMP, kalau ga salah. Aku tampil di ajang Porseni kelas remaja GBKP Jl. Bahagia. Pas latihan, aku bisa raih nada yang tinggi. Aku masih ingat lagunya ‘Sendah Enda Wari Paska’. Keren deh. Pas tampil, suara tinggi itu ‘pecah’ saking aku gugupnya. Ga juara deh, hehehe..

Kalo cuma sekedar karaoke, aku sih pede-pede aja. Malah teman lain yang jadi ga pede, hahaha…  Ucik pada saat farewell-nya cerita, dia termotivasi nyanyi dengan sungguh2 pas karaoke karena pengen mengalahkan score-ku. Lucu banget pas dengar pengakuan itu karena aku justru ga ingat moment itu.

SD Advent IV tempat aku mengenyam pendidikan dasar merupakan tempat pertama aku ‘belajar menyanyi’ (aku tidak ikut TK). Setiap pagi sebelum masuk kelas, semua murid kelas 1-6 dikumpulkan di halaman sekolah. Kami bernyanyi lagu rohani, dibacakan ayat Alkitab dan diajari berdoa. Indah sekali bila mengingat masa kecilku di SD Advent IV.

Thanks God.

Muka Baru Gia

Another funny story from Gia.

Minggu lalu, pipi Gia dicubit ama temannya. Sepertinya kena kuku, karena meninggalkan bekas di pipinya. Keesokan paginya, setelah mandi pagi, Gia ambil cermin kecil lalu membedaki mukanya, dan terjadilah percakapan berikut:

Gia: Mak, nanti kalo Mamak belanja, belikan muka Gia yang baru ya Mak. Dah rusak muka Gia.

Mak Gia: Hah? *lalu ketawa ngakak*

Pak Gia: *ketawa juga* Oo… sekalian juga nanti ganti hidung Gia yang pesek itu?

Gia: *menjelaskan dengan serius* Ngga Pak.. kalo hidung Gia masih bagus. Muka Gia aja yang udah jelek.

Mak & Pak Gia: hahahah..

Gia: jangan lupa ya Mak, beli muka Gia yang baru *tetap mengingatkan emaknya*

 

Gia..Gia..jadi makin kangen deh Bi Uda.. :)

 

Gia dan Utangnya :)

Gia, 3 tahun 9 bulan, (masih) keponakanku satu- satunya itu, makin hari makin pinter aja dan nggemesin. Gia sering dibawa maen ke rumah kakak untuk ketemu ama Biringnya aka mamak aku. Yang Gia tahu, kalo maen ke rumah bi tua (panggilan Gia untuk kakakku) itu berarti bisa ambil mainan yang ada di toko kakak.

Seperti tadi malam (21 Jan 2013), Gia (G) dibawa ke rumah Kakak (K), dan terjadilah percakapan berikut:

G: Bi tua, Gia minta ini ya… *sambil nunjuk mainan yang dia bawa*

K: oohhh boleh.. tapi harus bayar dulu.

G: *muka bingung* Gia ga ada uang.

K: Kalo gitu minta sama Bapak lah..

—- Gia pun pergi ke Bapaknya, kemudian sesaat balik lagi —-

G: Gia utang dulu ya Bi Tua..

K: *ketawa* kapan dibayar?

G: Besok Gia bayar..

Gia yang (di)manja banget ama Bapaknya

Gia yang (di)manja banget ama Bapaknya

Aku juga ketawa banget pas baca percakapan itu. Anak kecil kok dah tahu berhutang. Usut punya usut, ternyata pas Gia datang ke Bapaknya minta uang, Bapaknya lagi ga bawa uang. Jadi Bapaknya bilang ama Gia untuk nanya ke bi tua nya apa boleh utang. And she did it. Gia pun sukses membawa mainan tanpa membayar, hehehe…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.